
Suasana berbeda terasa di SMP IT Al-Kautsar. Sejumlah murid tampak lebih serius menatap layar komputer, sementara di ruangan yang sama suasana tetap terjaga tenang dan kondusif.
Hari itu bukan sekadar hari belajar seperti biasanya. Lima murid SMP IT Al-Kautsar tengah menunjukkan kemampuan terbaik mereka dalam Islamic Youth Festival (IYF) 2026 Bidang Olimpiade Bahasa Inggris Tingkat Daerah Se-Indonesia.
Lima murid tersebut adalah Adinda Nur Azzahra, Saltsabila Khairunnisa, Juan Maharani, Ihsan Aliy Zahy, dan Nayra Ramadhania Maldesra. Mereka membawa satu semangat yang sama: belajar, berani mencoba, dan memberikan kemampuan terbaik dalam sebuah kompetisi yang mempertemukan pelajar dari berbagai sekolah Islam Terpadu di Indonesia.
IYF 2026 merupakan penyelenggaraan ke-2 Islamic Youth Festival yang digelar oleh Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia. Festival ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengembangkan prestasi, kreativitas, kepemimpinan, dan kolaborasi. Pada bidang olimpiade, IYF menghadirkan kompetisi Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Matematika, Sains, dan IPS.
Bagi lima murid SMP IT Al-Kautsar, perjalanan menuju hari perlombaan tentu tidak dimulai ketika soal pertama muncul di layar. Ada proses panjang yang lebih dulu mereka jalani.
Di bawah bimbingan Ibu Betty Miranda, S.Pd., Gr., guru Bahasa Inggris SMP IT Al-Kautsar, persiapan dilakukan dengan membiasakan murid berhadapan dengan berbagai bentuk soal Bahasa Inggris. Mereka tidak hanya berlatih mengingat kosakata, tetapi juga diajak memahami makna kata dan kalimat, membaca teks dengan cermat, mengenali struktur bahasa, serta melatih kemampuan berpikir untuk menemukan jawaban yang paling tepat.
Latihan menjadi ruang untuk mencoba dan melakukan evaluasi. Ada soal yang dapat diselesaikan dengan cepat, ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama. Dari situlah murid belajar bahwa kemampuan tidak terbentuk dalam satu malam.
Setiap kesalahan menjadi bahan belajar. Setiap soal yang berhasil diselesaikan menjadi tambahan kepercayaan diri.
Persiapan tersebut juga menjadi latihan untuk menghadapi situasi lomba yang sebenarnya. Murid dibiasakan mengatur waktu, membaca pertanyaan secara teliti, tidak terburu-buru menentukan jawaban, dan tetap tenang ketika menemukan soal yang menantang.
Bagi Ibu Betty, kemampuan berbahasa Inggris bukan hanya tentang mendapatkan nilai yang tinggi. Lebih jauh, Bahasa Inggris merupakan bekal untuk membuka wawasan dan berkomunikasi dengan dunia yang lebih luas.
“The most important thing is not only getting the right answer, but also having the courage to try, the patience to learn from mistakes, and the confidence to show what you have prepared. Believe in yourself, give your best, and enjoy the process.”
“Hal yang paling penting bukan hanya mendapatkan jawaban yang benar, tetapi juga memiliki keberanian untuk mencoba, kesabaran untuk belajar dari kesalahan, dan kepercayaan diri untuk menunjukkan apa yang telah dipersiapkan. Percayalah pada diri sendiri, berikan yang terbaik, dan nikmati prosesnya.”

Semangat itulah yang terus dibangun selama masa latihan. Sebab dalam sebuah kompetisi, hasil memang penting, tetapi proses mempersiapkan diri juga memiliki cerita tersendiri.
Hari pelaksanaan pun tiba. Selasa, 22 September 2026, kelima murid mengikuti Olimpiade Bahasa Inggris IYF Tingkat Daerah dari sekolah masing-masing. Berdasarkan ketentuan resmi IYF, lomba tingkat daerah dilaksanakan secara online di sekolah masing-masing. Untuk kategori SMP, jadwal pelaksanaan ditetapkan pada pukul 13.00–14.30 WIB.
Sebelum lomba dimulai, persiapan kembali dilakukan. Perangkat dipastikan siap, murid menempati tempat masing-masing, dan suasana ruangan dibuat senyaman mungkin agar konsentrasi tetap terjaga.
Ketika lomba dimulai, suasana pun berubah menjadi lebih hening. Mata tertuju pada layar. Pikiran fokus membaca pertanyaan. Waktu terus berjalan.
Dalam ketentuan Olimpiade Bahasa Inggris IYF tingkat daerah, peserta mengikuti lomba secara individual dan menjawab 50 soal pilihan ganda dalam waktu 60 menit melalui perangkat berbasis komputer/HP. Setiap jawaban benar memperoleh 1 poin, sedangkan jawaban salah maupun soal yang tidak dijawab memperoleh 0 poin.
Dengan waktu yang terbatas, kemampuan mengatur strategi menjadi penting. Murid tidak hanya dituntut mengetahui jawaban, tetapi juga harus mampu membaca dengan cepat, memahami konteks, dan mengambil keputusan secara tepat.
Di sinilah latihan yang telah dilakukan sebelumnya mendapatkan ruang untuk diterapkan. Bukan lagi sekadar mengerjakan soal bersama guru. Kini masing-masing murid berhadapan dengan tantangan secara mandiri.
Keikutsertaan murid dalam kompetisi ini mendapatkan dukungan penuh dari Kepala SMP IT Al-Kautsar, Ibu Melia Henny M, S.Pd., M.M.
Bagi beliau, keikutsertaan dalam ajang seperti IYF menjadi kesempatan bagi murid untuk mengembangkan potensi sekaligus belajar menghadapi tantangan di luar pembelajaran rutin di kelas.
“Kami sangat mengapresiasi semangat murid-murid yang berani mengambil kesempatan untuk berkompetisi. Lomba bukan hanya tentang siapa yang mendapatkan hasil terbaik, tetapi juga tentang keberanian untuk mencoba, kesiapan untuk belajar, dan pengalaman yang akan membentuk mereka menjadi pribadi yang lebih percaya diri dan tangguh.”
Ibu Meli juga memberikan motivasi agar murid tidak menjadikan rasa gugup sebagai penghalang. Persiapan yang telah dilakukan bersama guru hendaknya menjadi bekal untuk tampil dengan tenang dan percaya diri.
“Berikan kemampuan terbaik, tetap jujur dan sportif, serta nikmati setiap prosesnya. Apa pun hasil yang diperoleh, jadikan pengalaman mengikuti IYF sebagai langkah untuk terus belajar, berkembang, dan berprestasi.”
IYF sendiri memiliki perjalanan kompetisi yang berjenjang. Pada Olimpiade Bahasa Inggris, peserta tingkat daerah yang memperoleh posisi terbaik dapat melanjutkan ke tingkat provinsi, kemudian peserta terbaik tingkat provinsi berkesempatan melaju ke tingkat nasional. Pada ketentuan resmi, 15% peringkat terbaik dari tingkat daerah berhak mengikuti seleksi tingkat provinsi, sementara 10% peringkat terbaik tingkat provinsi berhak maju ke tingkat nasional, dengan ketentuan kuota dapat disesuaikan apabila jumlah peserta tidak memenuhi batas minimal.
Untuk tingkat nasional, pelaksanaan Olimpiade Bahasa Inggris dijadwalkan secara luring di Jakarta pada 14–15 November 2026.
IYF 2026 sendiri mencatat antusiasme yang besar. JSIT Indonesia menyebut 52.863 peserta telah terdaftar untuk mengikuti olimpiade tingkat daerah. Penyelenggara juga menyebut kegiatan ini telah terkurasi oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) pada 2025.
Karena itu, keikutsertaan lima murid SMP IT Al-Kautsar dalam ajang ini menjadi bagian dari pengalaman penting dalam perjalanan akademik mereka. Ada keberanian untuk mencoba, ada proses latihan yang tidak selalu mudah, ada rasa gugup yang harus ditaklukkan, dan ada kesempatan untuk mengukur kemampuan di tengah kompetisi yang lebih luas.
Pada akhirnya, layar komputer mungkin hanya menampilkan deretan soal. Namun di balik layar itu ada cerita tentang latihan, semangat, doa, dukungan guru, perhatian sekolah, dan keberanian lima murid untuk memberikan yang terbaik.
Adinda Nur Azzahra, Saltsabila Khairunnisa, Juan Maharani, Ihsan Aliy Zahy, dan Nayra Ramadhania Maldesra telah mengambil satu langkah penting: berani tampil, berani berkompetisi, dan berani mengembangkan kemampuan.
Prestasi sering kali dimulai dari keberanian untuk mencoba. 🌟
“Believe in yourself, give your best, and shine bright at the Olympiad. Good Luck!”✨
