
SMP IT Al-Kautsar terus menghadirkan pengalaman belajar yang kontekstual melalui kegiatan kokurikuler. Salah satunya adalah Proyek Kewirausahaan kelas VIII, yang pada tahap awal dilaksanakan melalui kegiatan observasi dan pendataan berbagai jajanan di Pujasera SMP IT Al-Kautsar.

Kegiatan ini mengajak murid untuk mengenal lingkungan sekolah dari sudut pandang seorang calon wirausahawan. Pujasera yang selama ini menjadi tempat murid membeli makanan dan minuman dimanfaatkan sebagai ruang belajar untuk mengamati jenis produk yang tersedia, harga jual, serta kebutuhan dan peluang yang masih dapat dikembangkan.

Kegiatan dilaksanakan secara berkelompok. Setiap kelompok terlebih dahulu berkumpul dan membagi tugas agar proses observasi dapat dilakukan dengan tertib dan efektif. Ada murid yang bertugas mengamati dan mencatat nama jajanan, ada yang mencatat jenis makanan atau minuman, sementara anggota lainnya memperhatikan harga dan kondisi produk yang dijual.

Bersama kelompoknya, murid kemudian berkeliling mengamati berbagai stan yang ada di Pujasera. Mereka melihat secara langsung makanan dan minuman yang tersedia, mencatat produk yang ditemukan, serta memperhatikan variasi jajanan yang ditawarkan oleh para penjual.

Apabila diperlukan, murid juga melakukan tanya jawab sederhana dengan penjual untuk memperoleh informasi mengenai jajanan yang dijual. Interaksi tersebut menjadi pengalaman tersendiri bagi murid untuk belajar berkomunikasi dan mengumpulkan informasi secara langsung dari sumbernya.


Seluruh hasil pengamatan kemudian dicatat dalam Lembar Kerja Kokurikuler (LKK) “Identifikasi Jenis Jajanan (Makanan & Minuman) di Pujasera”. Murid bersama kelompoknya mengisi tabel yang memuat nama jajanan, jenis jajanan, serta harga.

Setelah seluruh data terkumpul, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi kelompok. Murid membandingkan hasil catatan masing-masing anggota dan mendiskusikan temuan mereka. Mereka diajak untuk mengidentifikasi makanan atau minuman yang belum tersedia di Pujasera, serta menentukan jenis jajanan yang paling banyak dijual.

Dari diskusi tersebut, murid mulai belajar melihat adanya kebutuhan dan peluang usaha di lingkungan sekolah. Misalnya, ketika suatu jenis makanan atau minuman belum tersedia atau masih sedikit ditemukan, murid dapat mempertimbangkan apakah produk tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan dan dijual.

Dengan demikian, kegiatan observasi ini tidak sekadar menjadi aktivitas mencatat jajanan. Murid belajar melakukan proses awal kewirausahaan, yaitu mengamati kondisi di lapangan, mengumpulkan data, berdiskusi, menemukan kebutuhan, dan mulai mengenali peluang usaha.

Belajar Kewirausahaan dari Lingkungan Sekitar
Melalui kegiatan tersebut, murid memperoleh pengalaman bahwa sebuah ide usaha dapat berawal dari hal sederhana yang ada di sekitar mereka. Mereka belajar bahwa sebelum menentukan produk yang akan dijual, seorang wirausahawan perlu mengetahui terlebih dahulu apa yang sudah tersedia, apa yang dibutuhkan, siapa calon pembelinya, serta peluang apa yang dapat dikembangkan.

Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk mengembangkan berbagai keterampilan murid, seperti kerja sama, komunikasi, observasi, pengumpulan data, berpikir kritis, kreativitas, dan pengambilan keputusan.

Data hasil observasi yang diperoleh setiap kelompok selanjutnya menjadi dasar untuk kegiatan pada tahap berikutnya, yaitu menganalisis peluang usaha dan menentukan produk yang berpotensi untuk dikembangkan di lingkungan sekolah.

Ibu Lilik Efendi, S.Pd., Gr., selaku Koordinator Kokurikuler SMP IT Al-Kautsar, menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang untuk memberikan pengalaman kewirausahaan yang nyata kepada murid.
“Kami ingin murid mendapatkan pengalaman belajar yang tidak hanya berasal dari teori, tetapi juga dari lingkungan mereka sendiri. Melalui observasi di Pujasera, murid belajar mengamati produk yang tersedia, mencatat data, kemudian mendiskusikannya bersama kelompok untuk melihat kemungkinan adanya peluang usaha.”
Beliau menambahkan bahwa kerja kelompok menjadi bagian penting dalam kegiatan ini.
“Murid belajar membagi tugas, bekerja sama, menyampaikan pendapat, dan menyatukan hasil pengamatan. Dari proses tersebut mereka belajar bahwa untuk menghasilkan sebuah keputusan yang baik, diperlukan data dan kerja sama.”
Menurut Ibu Lilik, kegiatan observasi menjadi tahap awal yang penting sebelum murid menentukan produk yang akan dikembangkan.
“Sebelum menentukan produk yang akan dijual, murid perlu mengetahui terlebih dahulu kondisi di lapangan. Apa yang sudah tersedia, apa yang belum tersedia, dan apa yang mungkin dibutuhkan oleh warga sekolah. Dari sinilah kemampuan mereka dalam melihat peluang mulai dibangun.”
Kepala SMP IT Al-Kautsar, Ibu Melia Henny M, S.Pd., M.M., menyampaikan bahwa kegiatan kokurikuler merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada murid untuk memperoleh pengalaman nyata.
“Kami berharap melalui proyek kewirausahaan ini, murid tidak hanya memahami konsep kewirausahaan, tetapi juga mampu menerapkannya dalam situasi yang dekat dengan kehidupan mereka. Pujasera menjadi lingkungan belajar yang sangat baik karena murid dapat melihat secara langsung bagaimana produk ditawarkan dan bagaimana kebutuhan konsumen dapat menjadi dasar munculnya sebuah peluang usaha.”
Beliau juga menekankan bahwa proses yang dijalani murid sama pentingnya dengan hasil akhir kegiatan.
“Yang ingin kami tumbuhkan bukan hanya kemampuan murid dalam menghasilkan sebuah produk, tetapi juga pola pikirnya. Murid belajar mengamati, bertanya, mengumpulkan informasi, berdiskusi, kemudian melihat kemungkinan solusi atau peluang yang dapat dikembangkan.”
Menurut beliau, pengalaman bekerja bersama kelompok juga menjadi bagian dari pembentukan karakter murid.
“Melalui kegiatan seperti ini, murid belajar bertanggung jawab terhadap tugasnya, menghargai pendapat teman, bekerja sama, serta berani menyampaikan gagasan. Nilai-nilai tersebut sangat penting untuk membentuk murid yang mandiri, kreatif, dan mampu melihat peluang di lingkungan sekitarnya.”
Kegiatan Proyek Kewirausahaan kelas VIII SMP IT Al-Kautsar melalui observasi dan identifikasi jajanan di Pujasera menjadi pengalaman belajar yang menggabungkan observasi, kolaborasi, literasi, dan keterampilan kewirausahaan.

Dengan bekerja bersama kelompok, murid tidak hanya mencatat berbagai makanan dan minuman yang tersedia, tetapi juga belajar membaca kondisi lingkungan sekolah dan menemukan kemungkinan peluang yang dapat dikembangkan.

Dari Pujasera, murid belajar bahwa peluang usaha dapat ditemukan dari kemampuan melihat, bertanya, mencatat, berdiskusi, dan memahami kebutuhan orang lain.

Kegiatan ini menjadi langkah awal sebelum murid melanjutkan ke tahap berikutnya dalam proyek kewirausahaan, yaitu menganalisis peluang usaha dan menentukan produk yang berpotensi untuk dikembangkan dan dijual di lingkungan sekolah.
