Pemanfaatan Kombinasi Kunyit (Curcuma longa) dan Minyak Kelapa Murni (Virgin Coconut Oil) sebagai Obat Alami untuk Mengobati Skabies pada Kucing (Felis catus)

NAMA PENELITI :

AQHA LATIEF MURSYID

MUHAMMAD RAIHAN ALFARISY

 

GURU PEMBIMBING :

Lilik Efendi, S.Pd., Gr

 

Bidang Kompetisi Penelitian

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)

 

SMP IT AL-KAUTSAR

TAHUN 2025

 

BAB 1. PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Kucing merupakan salah satu hewan peliharaan kesayangan yang memerlukan perawatan dan perhatian khusus terhadap status kesehatan, nutrisi yang diberikan, serta kebersihan diri kucing. Kucing dapat terserang penyakit apabila kondisi kesehatan maupun kebersihan tubuh kucing tidak terjaga. Salah satu penyakit yang sering menyerang kucing yaitu penyakit skabies. Menurut Wardhana dkk (2016) Penyakit kulit merupakan kasus  yang   paling   sering   dijumpai   pada   kucing,   terutama kasus skabies.

Skabies merupakan penyakit yang menyerang kulit kucing ditandai dengan luka, kerontokan bulu, kulit yang menebal dan mengeras serta berkerak. Kucing yang terjangkit skabies akan merasakan gatal sehingga kerap menggaruk bagian tubuh yang terjangkit skabies. Area tubuh yang terjangkit skabies jika tidak diobati lama kelamaan akan menyebar ke bagian tubuh lainnya.

Skabies  merupakan  penyakit  kulit  kucing yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei  pada  lapisan  korneum  kulit kucing. Penyakit ini merupakan penyakit yang sangat menular dan bersifat zoonosis (Calista dkk, 2019). Penyakit skabies ini dapat menyerang semua jenis kucing baik kucing lokal maupun kucing ras seperti anggora dan persia.

Peneliti memiliki seekor kucing domestik (Felis catus) yang mengalami gejala penyakit skabies, seperti kerontokan bulu, munculnya kerak pada kulit, serta perilaku sering menggaruk akibat rasa gatal yang berlebihan. Kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi kesehatan kucing, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran bagi peneliti karena sifat penyakit skabies yang mudah menular.

Gambar 1: Kucing subjek terduga skabies

Sumber: Dokumentasi Penelitian

Pengobatan skabies kucing selama ini pada umumnya dilakukan dengan menggunakan bahan obat-obatan kimia misalnya salep permethrin maupun obat ivermectrin di mana menurut Trasia (2020) pengobatan menggunakan bahan kimia memiliki efek samping yang ditimbulkan diantaranya iritasi, kontraindikasi, berbau, toksik, tidak efektif terhadap semua stadium tungau, serta harga yang cukup mahal.

Berdasarkan hal ini maka pemanfataan bahan-bahan alami yang mudah didapat dengan harga yang terjangkau, relatif lebih aman, tidak menimbulkan resistensi serta tidak berbahaya bagi lingkungan sekitar perlu untuk dikembangkan dan ditelusuri lebih jauh sebagai alternatif pengobatan skabies pada kucing.

Kunyit telah dikenal dan digunakan oleh masyarakat luas sebagai bumbu masakan maupun sebagai obat herbal alami. Menurut Rukmana (1999) rimpang kunyit digunakan sebagai obat herbal tradisional untuk obat gatal dan kudis. Kunyit mengandung bahan metabolit diantaranya tumeron, zingiberin, felandren, fenolik serta senyawa aktif curcumin yang bersifat anti parasit dan menghambat perkembangan parasit (Setyowati dan Chatarina, 2013). Kunyit mengandung senyawa aktif utama yaitu kurkumin yang memiliki sifat antiparasit, antiinflamasi, dan penyembuhan luka. Berdasarkan kandungan kunyit yang memiliki sifat antiparasit ini sehingga memungkinkan kunyit dapat dijadikan sebagai obat alami untuk penyakit skabies yang disebabkan ektoparasit dari tungau Sarcoptes scabiei.

Lebih lanjut menurut Akram dkk (2019) dalam jurnal “Therapeutic potential of medicinal plants for the management of scabies” menyatakan bahwa salah satu tanaman obat yang dapat dijadikan sebagai obat penyakit skabies yaitu kunyit atau Curcuma longa yang diteliti memiliki banyak senyawa bioaktif dengan efek terapeutik potensial terhadap skabies dan dapat dimanfaatkan untuk tujuan pengobatan penyakit ini.

Selain itu minyak kelapa murni (VCO) juga memiliki kandungan berupa asam laurat yang bersifat antiinflamasi dan antiparasit serta dapat memperbaiki sel-sel kulit yang rusak. Menurut Solikhah dkk (2021) bahwa minyak kelapa murni (VCO) dapat digunakan sebagai pengobatan skabies pada kucing karena adanya kandungan fenol dan asam lemak rantai jenuh pada minyak kelapa murni yang dapat mengobati dan memperbaiki jaringan tubuh yang terkena skabies.

Berdasarkan hal tersebut kombinasi antara kunyit dan minyak kelapa murni menyediakan dua jenis aksi penyembuhan pada skabies dimana kunyit membunuh atau menekan tungau serta minyak kelapa murni memperbaiki dan melindungi kulit sehingga pemulihan lebih cepat.

Penelitian terdahulu yang menggunakan bahan alami telah dilakukan oleh Solikhah dkk (2021) dengan mengkombinasikan lidah buaya (Aloe vera) dan minyak kelapa murni (VCO) untuk mengobati skabies pada kucing. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi lidah buaya (Aloe vera) dan minyak kelapa murni (VCO) efektif mengobati penyakit skabies pada kucing.

Kunyit dan minyak kelapa murni (VCO) merupakan bahan alami yang dapat dijadikan sebagai terapi topikal alternative untuk perawatan dan pengobatan penyakit skabies pada kucing. Berdasarkan hal ini maka peneliti telah melakukan penelitian lebih lanjut dengan judul “Pemanfaatan Kombinasi Kunyit (Curcuma longa) dan Minyak Kelapa Murni (Virgin Coconut Oil) sebagai Obat Alami untuk Mengobati Skabies pada Kucing (Felis catus)”.

RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan maka rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu apakah kombinasi kunyit (Curcuma longa) dan minyak kelapa murni (Virgin Coconut Oil) efektif digunakan sebagai obat alami untuk mengobati skabies pada kucing (Felis catus)?.

TUJUAN PENELITIAN

Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pemanfaatan kombinasi kunyit (Curcuma longa) dan minyak kelapa murni (Virgin Coconut Oil) sebagai obat alami untuk mengobati skabies pada kucing (Felis catus).

MANFAAT PENELITIAN

Manfaat Teoritis

  1. Memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan ilmu pengetahuan khususnya di bidang biologi, farmasi herbal dan kesehatan hewan dengan mengkaji efektivitas bahan-bahan alami sebagai alternative pengobatan skabies pada kucing.
  2. Menambah literatur dan referensi ilmiah mengenai pemanfaatan bahan alami sebagai alternatif pengobatan skabies hewan peliharaan khususnya pada kucing.
  3. Memperkuat potensi pemanfaatan bahan alami lokal Indonesia khususnya kunyit dan minyak kelapa murni sebagai alternative pengobatan penyakit kulit pada kucing.
  4. Hasil penelitian dapat menjadi dasar penelitian lanjutan.

Manfaat Praktis

  1. Memberikan solusi alternatif pengobatan skabies pada kucing yang lebih aman, alami, ramah lingkungan serta tanpa efek samping terutama bagi pemilik hewan kucing yang enggan menggunakan obat-obatan kimia.
  2. Membantu pemilik hewan peliharaan kucing untuk mengatasi penyakit skabies dengan bahan alami yang mudah didapat dan murah sehingga dapat diracik secara mandiri di rumah.
  3. Mendorong penggunaan dan pemanfaatan bahan-bahan alami lokal yang memiliki potensi besar di bidang kesehatan hewan khususnya kesehatan kulit kucing.
  4. Membantu meningkatkan kualitas hidup kucing yang terjangkit skabies dengan penyembuhan yang efektif tanpa efek samping.

 

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 SKABIES PADA KUCING

Skabies merupakan salah satu penyakit yang menyerang kulit dan disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei (Arlian & Morgan, 2017). Sarcoptes scabiei merupakan salah satu ektoparasit yang biasa menyerang kucing. Tungau ini hidup pada kulit dengan membuat terowongan pada stratum corneum dan melangsungkan hidupnya pada tempat tersebut (Henggae dkk., 2006).

Sarcoptes scabiei merupakan salah satu ektoparasit yang dapat menyebabkan penyakit kulit scabiosis. Penyakit ini dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan hewan lain yang terkena scabiosis atau dengan adanya sumber tungau skabies di wilayah tempat tinggal kucing (Wardhana dkk., 2016).

Kucing yang terserang penyakit skabies dapat mengalami penurunan kondisi tubuh, memicu terjadinya reaksi alergi dan meningkatkan jumlah leukosit pada tubuh (Susanto dkk., 2020). Kucing yang terjangkit skabies terlihat tidak tenang karena rasa gatal dengan menggaruk atau bahkan menggosok bagian yang gatal pada benda keras sehingga mengakibatkan peradangan. Ketika kucing menggaruk bagian yang gatal, hal tersebut akan mengembangkan papula merah yang pada akhirnya akan mengeras seperti kulit mati. Adanya lesi dengan tepi yang tidak merata disertai keropeng serta kulit terlihat bersisik. Seiring dengan berjalannya waktu, kulit yang terjangkit Sarcoptes scabiei akan mengeras dan juga menebal di mana jika infeksi ini tidak segera diobati pada akhirnya infeksi skabies pada kucing akan menyebar keseluruh bagian tubuh. Nafsu makan kucing pun akan menurun dan pada akhirnya diikuti penurunan berat badan sehingga kucing tampak lebih kurus (Ocstavella dkk., 2024).

Menurut Septiana dkk (2022) bagian yang terinfeksi lebih awal adalah daun telinga, daerah   kepala,   sekitar   mata,   dada,   kaki,  dan  ekor.  Kucing  yang  terinfeksi  akan  terlihat  kulit menjadi kering, menebal, dan mengkerut, serta terbentuknya krusta atau keropeng. Berikut gambar kucing yang terkena skabies:

Gambar 2: Kucing terkena Skabies

Sumber: Septiana dkk, 2022

2.2 KUNYIT (Curcuma longa)

Kunyit (Curcuma longa) adalah salah satu jenis rempah-rempah yang banyak digunakan sebagai bumbu dalam berbagai jenis masakan. Kunyit termasuk salah satu suku tanaman temu-temuan (Zingiberaceae). Menurut Winarto (2004), dalam taksonomi tanaman kunyit dikelompokkan sebagai berikut :

Kingdom          : Plantae

Divisio             : Spermatophyta

Sub divisio       : Angiospermae

Class                : Monocotyledonae

Ordo                : Zingiberales

Family              : Zingiberaceae

Genus              : Curcuma

Species             : Curcuma longa

Kunyit mengandung senyawa yang berkhasiat obat, yang disebut kurkuminoid yang terdiri dari kurkumin 3-4 %, desmetoksikumin sebanyak 10% dan bisdesmetoksikurkumin sebanyak 1–5% dan zat-zat bermanfaat lainnya seperti minyak atsiri yang terdiri dari keton sesquiterpen, turmeron, tumeon 60%, zingiberen 25%, felandren, sabinen, borneol dan sineil. Kunyit juga mengandung lemak sebanyak 1–3%, karbohidrat sebanyak 3%, protein 30%, pati 8%, Vitamin C 45-55%, dan garam-garam mineral, yaitu zat besi, fosfor, dan kalsium. (Chattopadhyay dkk, 2004).

Senyawa kimia utama yang terkandung di dalam rimpang kunyit adalah minyak atsiri dan kurkuminoid. Minyak atsiri mengandung senyawa seskuiterpen alkohol, turmeron dan zingiberen, sedangkan kurkuminoid mengandung senyawa kurkumin dan turunannya (berwarna kuning) yang meliputi desmetoksi kurkumin dan bidesmetoksikurkumin. Selain itu rimpang juga mengandung senyawa gom, lemak, protein, kalsium, fosfor dan besi (Kristina dkk, 2010).

2.3 MINYAK KELAPA MURNI (VIRGIN COCONUT OIL)

Minyak kelapa murni atau Virgin Coconut Oil (VCO) merupakan produk olahan dari daging kelapa segar dengan atau tanpa pemanasan dan tanpa penambahan bahan kimia. Kandungan minyak kelapa murni salah satunya yaitu asam laurat yang merupakan asam lemak dominan yang memiliki khasiat sebagai antiinflamasi, pengatur sistem imun, antivirus, antijamur, antibakteri, antiparasit dan antiprotozoa (Kusuma dan Putri, 2020). Minyak kelapa murni terdapat komponen-komponen aktif, yaitu:

  1. Asam Lemak yang mengandung asam lemak jenuh (92,96%) dan asam lemak tak jenuh (7,04%). Asam lemak jenuh yang memiliki kandungan tertinggi adalah asam laurat (43,43%), asam kaproat (10,96%), asam miristat (19,29%), asam stearat (1,85%), asam kaprik (0,63%), asam palmitat (10,98%), dan asam oleat (1,13%)
  2. Triasilglyserol: Zat aktif ini berupa Medium Chain Trigliserida (MCT).
  3. Phytosterol
  4. Phytosanol
  5. Flavonoids merupakan senyawa fenolik yang memiliki sifat antikanker
  6. Phospolipid

Minyak kelapa murni (VCO) dapat memperbaiki sel-sel kulit yang rusak. Hal tersebut disebabkan karena kandungan VCO baik untuk melembabkan dan melumaskan kulit, menurunkan inflamasi, mendukung dalam perbaikan dan penyembuhan jaringan kulit (Linggi dkk, 2021). Minyak kelapa murni memiliki aktivitas anti inflamasi, yaitu melindungi kulit dengan meningkatkan fungsi daya tahannya. Sihombing (2016) juga yang menyatakan bahwa VCO efektif dan aman digunakan sebagai moisturizer pada kulit karena dapat meningkatkan hidratasi kulit, sebagai pelembab yang mudah diserap oleh kulit dan dapat mengurangi penguapan yang berlebihan.

2.4 PENELITIAN RELEVAN

Penelitian yang dilakukan oleh Solikhah dkk (2021) dengan judul “Aloe vera and Virgin Coconut Oil (VCO) accelerate healing process in domestic cat (Felis domesticus) suffering from scabies “ : Aloe Vera dan Virgin Coconut Oil untuk Mempercepat Proses Penyembuhan pada Kucing Domestik yang Menderita Skabies. Hasil pengujian efek krim lidah buaya dan Virgin Coconut Oil (VCO) terhadap kucing scabies menunjukkan penyembuhan yang signifikan ditandai dengan perubahan pengurangan ketebalan dan keropeng pada kulit, dan dimulainya perbaikan jaringan ikat untuk membentuk struktur kulit baru.

BAB 3. METODE PENELITIAN

 3.1 WAKTU DAN TEMPAT PENELITIAN

Waktu

Penelitian dilaksanakan mulai dari bulan Juni-Agustus 2025.

Tempat

Penelitian dilakukan di lingkungan tempat tinggal peneliti yaitu di Jalan Gaya Baru, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis. Adapun pemeriksaan laboratorium tungau penyebab skabies pada kucing dilakukan di Klinik Hewan Archivet Duri. Selanjutnya penanganan dan perawatan skabies kucing menggunakan kombinasi kunyit dan minyak kelapa dilakukan di rumah peneliti dengan menggunakan kandang karantina sederhana.

ALAT DAN BAHAN

Alat

Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu mikroskop, object glass, pisau bedah, kandang karantina sederhana, batang pengaduk, sendok pengaduk, sendok takar, saringan, cawan petri, gelas ukur, timbangan analitik, spatula kecil, mangkuk kaca tertutup, kuas kecil, penggaris, kuali, kompor, blender mixer juicer

Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sampel kerokan kulit kucing terduga skabies, larutan KOH, kunyit bubuk merek “Desaku”, kelapa, air, masker, tisu, sarung tangan, baju lab, handuk kecil.

RANCANGAN DAN PROSEDUR PENELITIAN

Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen dengan pendekatan kualitatif. Rancangan ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan memahami secara mendalam proses pengobatan penyakit skabies pada kucing menggunakan kombinasi bahan herbal alami berupa kunyit (Curcuma longa) dan minyak kelapa murni (Virgin Coconut Oil/VCO). Penelitian dilakukan dengan memberikan perlakuan langsung (treatment) kepada subjek (kucing kasus yang terjangkit penyakit skabies) berupa kombinasi bubuk kunyit dan VCO. Peneliti mengamati perubahan fisik, perilaku, dan respons kucing terhadap pengobatan tersebut secara teratur dan menyeluruh, serta mendokumentasikan hasilnya dalam bentuk deskriptif.

Prosedur Penelitian

Adapun prosedur penelitian ini yaitu terdiri :

Tahap Persiapan dan Identifikasi Subjek Penelitian

Tahap persiapan meliputi persiapan alat dan bahan yang digunakan selama melakukan penelitian khususnya persiapan kandang karantina sebagai tempat observasi selama tahap perawatan dan pengobatan skabies pada kucing. Peneliti mencari kucing yang diduga terjangkit penyakit skabies. Selanjutnya peneliti meminta izin kepada pemilik kucing dengan meminta kesedian kucing nya diobati menggunakan herbal alami menggunakan kombinasi kunyit dan minya kelapa murni (VCO).

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik dengan memeriksa secara menyeluruh kondisi fisik kucing yang diduga terjangkit penyakit skabies. Pemeriksaan fisik ini bertujuan untuk membantu penegakan diagnosa penyakit skabies pada kucing. Pemeriksaan fisik dilakukan di area telinga, hidung, wajah, ekor dan kaki kucing. Adapun inspeksi gejala klinis kucing yang terjangkit penyakit skabies ditandai dengan warna bulu yang kusam dan rontok, permukaan kulit tidak rata, terdapat kudis atau keropeng dengan kulit yang mengeras dan menebal, perubahan perilaku pada kucing yaitu kebiasaan menggaruk pada bagian tubuh yang terjangkit skabies karena adanya rasa gatal diakibatkan oleh tungau penyebab skabies. Pemeriksaan fisik kucing dilakukan di Laboratorium Klinik Hewan Arcivet Duri.

Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan kulit kucing dengan mengambil sampel kerokan kulit yang mengeras pada area di perbatasan antara lesi dan jaringan sekitarnya dengan teknik skin scraping. Selanjutnya sampel kerokan tersebut diletakkan pada object glass dan ditetesi KOH 10% dan diperiksa menggunakan mikroskop dengan perbesaran 400x. Pemeriksaan menggunakan mikroskop ini bertujuan untuk melihat tungau penyebab penyakit skabies pada kucing.

Diagnosa

Setelah dilakukan pemeriksaan fisik dan didukung dengan hasil pemeriksaan laboratorium maka peneliti melakukan diagnosa apakah kucing yang diperiksa terjangkit skabies atau tidak. Diagnosa juga dilakukan oleh dokter hewan di Klinik Hewan Arcivet Duri.

Peracikan Kombinasi Kunyit dan Minyak Kelapa sebagai Obat Alami Pengobatan Skabies Kucing

Bahan-bahan:

  1. Kunyit bubuk merek Desaku: 100% murni tanpa campuran lain
  2. Kelapa

Langkah Pembuatan Minyak Kelapa Murni (VCO):

  1. Menyiapkan 5 buah kelapa tua dan diparut
  2. Memeras parutan kelapa dengan mixer juicer hingga mendapatkan santan kental
  3. Memasukkan santan kental ke dalam wajan bersih, kemudian dipanaskan di atas api kecil. Selanjutnya diaduk perlahan dan terus-menerus agar santan tidak gosong serta proses pemisahan minyak berlangsung merata.
  4. Setelah terlihat minyak bening di permukaan, lalu mengangkat wajan dari api dan biarkan beberapa saat agar suhu menurun.
  5. Memisahkan minyak kelapa murni dari endapan menggunakan saringan halus atau kain kasa bersih dan dimasukkan ke dalam gelas ukur hingga 70 ml.

Langkah Peracikan Obat:

  1. Menyiapkan wadah kaca yang memiliki penutup.
  2. Menuangkan 70 ml minyak kelapa murni (VCO) ke dalam wadah kaca.
  3. Menambahkan 30 gram kunyit bubuk Desaku ke dalam wadah kaca.
  4. Mengaduk rata menggunakan spatula sampai menjadi campuran kental seperti pasta halus.
  5. Menutup rapat wadah.

Komposisi dan Takarannya:

  1. Kunyit bubuk 30% (30 gram)
  2. Minyak kelapa 70% (70 ml)
  3. Takaran untuk 100 ml salep: kunyit bubuk 30 gram ditambah minyak kelapa murni 70 ml

Pengobatan Skabies pada Kucing

Kucing yang terdiagnosa dengan penyakit skabies selanjutnya dilakukan penanganan dan pengobatan secara herbal menggunakan kombinasi bubuk kunyit dan minyak kelapa murni yang telah diracik. Adapun pengobatan skabies pada kucing sebagai berikut:

Mempersiapkan Kucing

Kucing yang terinfeksi skabies dipelihara dengan dikandangkan agar dapat diobservasi dan diobati secara teratur. Sebelum pengaplikasian obat, memastikan kucing dalam keadaan tenang. Selanjutnya membersihkan area kulit yang terinfeksi skabies dengan air hangat. Lalu dikeringkan perlahan menggunakan handuk bersih.

Pemberian Obat Alami Kombinasi Kunyit dan Minyak Kelapa Murni

Mengoleskan tipis-tipis pada kulit kucing yang terkena skabies sebanyak 2 kali sehari yaitu pagi dan sore dengan menghindari area mata, lubang hidung, dan mulut.

Observasi

Kucing kasus yang terinfeksi skabies diobservasi setiap hari untuk melihat perkembangan pengobatan dan melihat perubahan fisik yang terlihat pada area tubuh yang terjangkit skabies. Mengamati perubahan pada luka, kulit yang menebal atau mengeras, tingkat gatal serta kondisi bulu kucing setiap harinya. Hasil pengamatan harian dicatat di Lembar Observasi. Selanjutnya memantau reaksi kulit kucing dengan memastikan tidak ada reaksi alergi seperti kemerahan parah, bengkak, atau luka melepuh. Menghentikan penggunaan obat racikan jika terjadi iritasi atau alergi parah dengan membersihkan kulit kucing yang telah diaplikasikan obat racikan menggunakan air bersih. Jika tidak ada reaksi alergi maka proses pengobatan dapat dilanjutkan. Melanjutkan pengobatan selama minimal 7 hari atau hingga luka benar-benar mengering, kulit yang menebal rontok dan gejala gatal-gatal menghilang.

Perawatan Kucing

Kucing yang terjangkit skabies (kucing kasus) diberi makan dua kali sehari dan air minum serta dimandikan dengan air hangat satu minggu sekali. Perawatan kandang karantina juga diperhatikan dengan memastikan kandang dan peralatan makan dalam keadaan bersih setiap harinya.

Evaluasi dan Tindak Lanjut

Jika setelah 14 hari skabies pada kucing kasus tidak membaik atau tidak sembuh maka selanjutnya mengkonsultasikan segera ke dokter hewan di Klinik Hewan Arcivet Duri untuk pengobatan lebih lanjut. Jika kondisi membaik, maka selanjutnya kucing dapat di kembalikan kepada pemiliknya.

3.4 PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA

Pengolahan Data

Data yang diperoleh dari hasil observasi selama proses pengobatan kucing yang terjangkit skabies diolah secara deskriptif kualitatif.  Setiap data harian dicatat dalam Lembar Observasi dan didokumentasikan secara visual. Data yang dikumpulkan selama proses pengobatan skabies pada kucing kasus menggunakan kombinasi kunyit dan minyak kelapa murni berupa:

  1. Kondisi luka (kondisi kulit yang terinfeksi skabies)
  2. Warna lesi (kulit yang terinfeksi skabies)
  3. Tingkat gatal (frekuensi menggaruk).
  4. Perubahan kondisi bulu (kerontokan atau pertumbuhan kembali).
  5. Reaksi kulit atau efek samping yang muncul ketika diberi racikan obat.
  6. Analisis Data

Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif, yaitu:

  1. Menelaah data observasi untuk mengetahui adanya pola perubahan atau perkembangan kondisi kucing setelah diberikan obat salep kombinasi kunyit dan minyak kelapa murni.
  2. Membandingkan kondisi sebelum dan sesudah perlakuan untuk mengevaluasi efektivitas pengobatan, seperti penurunan gejala skabies, berkurangnya perilaku menggaruk, dan perbaikan pada kulit.
  3. Menarik kesimpulan kualitatif berdasarkan keseluruhan proses pengobatan, respon tubuh kucing, dan tingkat keberhasilan pemulihan yang tampak.
  4. Menginterpretasikan hasil temuan dalam konteks penggunaan bahan herbal kombinasi kunyit dan minyak kelapa murni sebagai alternatif pengobatan alami terhadap penyakit skabies pada kucing dengan menyatakan adanya kesembuhan atau tidak dengan melihat hasil yang menunjukkan respon yang baik terhadap pengobatan yang dilakukan.

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Penyakit Skabies merupakan penyakit kulit yang sering diderita oleh kucing. Penyebab penyakit skabies pada kucing yaitu tungau Sarcoptes scabiei dan bersifat menular melalui kontak secara langsung. Kucing yang terkena skabies merasakan gatal yang hebat sehingga selalu menggaruk area tubuh yang terkena skabies, bulu mengalami kerontokan, kulit yang mengalami iritasi serta adanya kerak yang menebal atau keropeng.

Peneliti menggunakan bahan alami sebagai obat skabies pada kucing dengan kombinasi kunyit (Curcuma longa) dan minyak kelapa murni (Virgin Coconut Oil). Selanjutnya peneliti membuat minyak kelapa murni dari bahan utama berupa kelapa yang sudah tua melalui proses pemanasan hingga menghasilkan minyak yang disebut dengan minyak kelapa murni (Virgin Coconut Oil).

Gambar 3 : Proses pembuatan minyak kelapa murni (VCO)

Sumber: Dokumentasi Penelitian

Kunyit bubuk yang digunakan yaitu kunyit merek Desaku. Peneliti mencampurkan kedua bahan yaitu kunyit dan minyak kelapa murni dengan komposisi kunyit bubuk 30 gram ditambah minyak kelapa murni 70 ml.

Gambar 4 : Pembuatan obat skabies kucing kombinasi kunyit dan minyak kelapa murni

Sumber : Dokumentasi Penelitian

Pada penelitian ini, kucing yang dijadikan subjek penelitian yaitu kucing milik peneliti sendiri yang berusia satu tahun. Kucing subjek merupakan ras Anggora dengan warna bulu abu-abu, berjenis kelamin betina dengan berat bdan 2,6 Kg. Kucing peneliti dijadikan subjek penelitian karena memiliki ciri-ciri dengan gejala skabies diantaranya yaitu terdapat keropeng atau kerak yang menebal di area telinga kiri dan kanan di mana kondisi telinga kanan seluruhnya tertutup dengan kerak yang tebal, sementara itu telinga kiri terdapat kerak tetapi tidak setebal telinga kanan. Selanjutnya tidak ada bulu pada area telinga yang berkerak (bulu mengalami kerontokan di area telinga yang berkerak) serta perilaku kucing yang selalu menggaruk area telinga kiri dan kanan. Kucing subjek yang diduga terjangkit skabies dapat dilihat pada gambar 4.

Gambar 5: Kucing subjek terduga skabies

Sumber: Dokumentasi Penelitian

Selanjutnya, kucing yang menjadi subjek penelitian dengan dugaan skabies dilakukan pemeriksaan mikroskopis. Pemeriksaan kulit dilakukan dengan mengambil sampel kerokan pada bagian kulit yang mengeras, terutama di area perbatasan antara lesi dan jaringan sehat, menggunakan metode skin scraping. Sampel hasil kerokan kemudian diletakkan di atas kaca objek, ditetesi larutan KOH 10%, dan diperiksa di bawah mikroskop dengan perbesaran 400 kali untuk mengidentifikasi keberadaan tungau Sarcoptes scabiei, penyebab penyakit skabies pada kucing.

Gambar 6: Pemeriksaan mikroskopis sampel kerokan kulit kucing

Berdasarkan ciri morfologi yang diamati, sampel kerokan kulit kucing subjek dinyatakan positif mengandung tungau Sarcoptes scabiei dengan ciri-ciri berbentuk bulat atau oval, memiliki 4 pasang kaki (8 kaki) yang selanjutnya dapat dilihat pada gambar 6.

Gambar 7 : Tungau Sarcoptes scabiei pada sampel kerokan kulit kucing subjek penelitian

Sumber: Dokumentasi Penelitian

Kucing subjek penelitian yang dinyatakan positif terjangkit skabies, lalu dibersihkan area telinganya yang berkerak dengan air hangat dan dikeringkan menggunakan handuk kecil. Berikutnya kucing diolesi obat yang telah dibuat yaitu “kombinasi kunyit dan minyak kelapa murni” ke area telinga yang terkena skabies. Pemberian obat dilakukan dua kali sehari yaitu di pagi dan sore hari.

Gambar 8 : Pengaplikasian obat kombinasi kunyit dan minyak kelapa murni ke area telinga kucing yang terkena skabies

Sumber: Dokumentasi Penelitian

Setelah pengaplikasian kombinasi kunyit dan minyak kelapa murni pada area telinga yang terinfeksi pada hari pertama, kondisi kucing menunjukkan tanda-tanda skabies yang masih cukup parah pada bagian telinga kanan dan kiri. Terlihat adanya kerak tebal berwarna kecokelatan yang menutupi hampir seluruh permukaan kulit telinga kanan maupun telinga kiri. Permukaan kerak tampak kasar, menumpuk, dan kering, menunjukkan adanya penumpukan sel kulit mati dan reaksi kulit akibat infeksi tungau Sarcoptes scabiei. Di beberapa bagian, terlihat adanya keretakan dan pengelupasan ringan, namun kerak masih melekat kuat pada kulit. Pada bagian telinga baik kanan maupun kiri yang berkerak tidak ditumbuhi bulu atau terjadinya kerontokan pada bulu di area telinga yang terkena skabies. Kucing subjek masih sering menggaruk pada area telinga, menandakan rasa gatal masih terasa pada bagian yang terinfeksi skabies.

Gambar 9: Kondisi kucing setelah pengaplikasian obat hari pertama

Sumber: Dokumentasi Penelitian

Kondisi kucing pada hari kedua menunjukkan bahwa bagian telinga kanan dan kiri masih tampak terdapat kerak tebal berwarna cokelat dan abu-abu yang menutupi sebagian besar permukaan kulit telinga. Namun kerak pada telinga kanan dan kiri mulai menunjukkan perubahan. Bagian kerak pada telinga kanan bagian atas tampak mulai rontok, dan kerak pada bagian telinga kiri juga sudah mulai rontok. Kerak mulai terlihat retak dan sedikit terangkat, menandakan adanya proses pelunakan kerak akibat pengaplikasian kombinasi kunyit dan minyak kelapa murni. Kucing masih terlihat menggaruk area telinga karena merasakan gatal atau tidak nyaman, namun intensitasnya menurun dibandingkan hari pertama.

Gambar 10: Kondisi kucing setelah pengaplikasian obat hari kedua

Sumber: Dokumentasi Penelitian

Kondisi kucing pada hari ketiga menunjukkan adanya perbaikan yang cukup signifikan dibandingkan hari sebelumnya. Pada bagian telinga kanan dan kiri, kerak yang sebelumnya tebal kini tampak mulai berkurang dan sebagian besar kerak sudah rontok, terutama pada bagian pinggiran dan tengah telinga. Permukaan kulit telinga terlihat lebih bersih dan mulai tampak warna kulit asli meskipun masih ada sisa kerak tipis berwarna hitam kecokelatan di beberapa titik menandakan adanya proses regenerasi kulit. Kucing tampak lebih tenang dan kemungkinan rasa gatal mulai berkurang, terlihat dari tidak adanya tanda-tanda garukan berlebihan di sekitar telinga. Hal ini menunjukkan bahwa kombinasi kunyit dan minyak kelapa murni mulai efektif dalam melunakkan dan melepaskan kerak skabies pada telinga kucing subjek.

Gambar 11: Kondisi kucing setelah pengaplikasian obat hari ketiga

Sumber: Dokumentasi Penelitian

Kondisi kucing pada hari keempat menunjukkan perbaikan yang sangat jelas dibandingkan hari-hari sebelumnya. Permukaan telinga kanan dan kiri tampak bersih dan halus, dengan seluruh kerak skabies telah rontok sepenuhnya. Kulit telinga mulai terlihat mengkilap alami dan lembap, menandakan bahwa lapisan kulit baru sudah mulai terbentuk dengan baik. Warna kulit telinga terlihat lebih merata, berwarna cokelat-hitam meskipun masih ada sedikit bekas kekuningan dari sisa kunyit yang digunakan dalam proses pengobatan. Tidak tampak adanya luka terbuka atau iritasi baru. Selain itu, bulu di sekitar pangkal telinga mulai tumbuh kembali dan tampak sehat. Secara perilaku, kucing terlihat lebih tenang dan nyaman, tidak menunjukkan tanda-tanda menggaruk atau gelisah seperti sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa rasa gatal dan iritasi pada area telinga telah berkurang secara signifikan.

Gambar 12: Kondisi kucing setelah pengaplikasian obat hari keempat

Sumber: Dokumentasi Penelitian

Kondisi kucing pada hari kelima sudah mengalami perbaikan signifikan. Area sekitar telinga dan kepala yang sebelumnya mengalami kerontokan dan iritasi kini menunjukkan permukaan kulit yang lebih bersih dan tidak meradang. Meskipun masih terlihat sedikit area dengan bulu yang belum tumbuh sempurna, namun warna kulit tampak normal dan tidak terdapat kerak, luka terbuka, atau tanda infeksi aktif. Pertumbuhan bulu baru mulai tampak di sekitar bagian yang sebelumnya gundul, menandakan proses penyembuhan berjalan dengan baik. Kucing subjek tidak aktif lagi menggaruk area telinga kann maupun telinga kiri.

Gambar 13: Kondisi kucing setelah pengaplikasian obat hari kelima

Sumber: Dokumentasi Penelitian

Kondisi kucing pada hari keenam menunjukkan bahwa kulit telinga telah pulih dengan baik dan hampir sepenuhnya kembali normal. Permukaan telinga kanan dan kiri terlihat bersih dan halus, tanpa adanya kerak atau sisik yang menempel. Warna kulit telinga tampak lebih merata dan sehat, menunjukkan bahwa proses regenerasi kulit telah berjalan optimal. Bulu di sekitar area telinga mengalami proses pertumbuhan kembali. Tidak tampak adanya tanda-tanda iritasi, kemerahan, atau luka baru. Kucing tampak tenang dan nyaman, menunjukkan bahwa rasa gatal atau perih akibat infeksi skabies sudah tidak dirasakan lagi. Secara keseluruhan, pada hari kelima pengobatan dengan kombinasi kunyit dan minyak kelapa murni, kondisi kucing menunjukkan kesembuhan yang sangat baik. Telinga telah bebas dari kerak, kulit terlihat sehat, dan bulu mulai tumbuh kembali dengan normal menandakan bahwa terapi alami ini efektif mempercepat proses pemulihan kulit akibat infeksi skabies.

Gambar 14: Kondisi kucing setelah pengaplikasian obat hari keenam

Sumber: Dokumentasi Penelitian

Kondisi kucing pada hari ketujuh menunjukkan pemulihan yang hampir sempurna dari infeksi skabies. Permukaan telinga kanan dan kiri tampak bersih, halus, dan bebas dari kerak maupun sisik kulit. Warna kulit pada bagian telinga terlihat lebih merata dan normal, tanpa adanya tanda peradangan, luka, ataupun kekeringan. Bulu di sekitar area telinga kanan dan kiri juga tampak tumbuh lebih lebat dan rata, menandakan proses regenerasi kulit berjalan baik. Tidak terlihat adanya area botak atau kerontokan baru. Secara keseluruhan, kondisi kucing tampak lebih sehat dan nyaman, dengan postur tubuh yang tenang menunjukkan bahwa rasa gatal atau iritasi sudah hilang sepenuhnya.

Gambar 15: Kondisi kucing setelah pengaplikasian obat hari ketujuh

Sumber: Dokumentasi Penelitian

Kondisi kucing pada hari kedelapan menunjukkan bahwa proses penyembuhan sudah sangat baik dan hampir sempurna. Permukaan kulit pada bagian telinga kanan dan kiri tampak halus, tidak bersisik, dan tidak terdapat kerak tebal seperti pada kondisi awal infeksi skabies. Warna kulit mulai merata dan normal kembali, meskipun masih terdapat sedikit area yang tampak lebih gelap akibat sisa proses regenerasi kulit. Bulu di sekitar area telinga kanan dan kiri juga mengalami pertumbuhan merata, menandakan bahwa folikel rambut telah pulih dari iritasi sebelumnya. Tidak tampak adanya luka terbuka atau tanda peradangan baru. Secara umum, tekstur kulit terlihat sehat dan bersih, serta kucing tampak lebih nyaman dan tenang, tanpa menunjukkan perilaku menggaruk berlebihan.

Gambar 16: Kondisi kucing setelah pengaplikasian obat hari kedelapan

Sumber: Dokumentasi Penelitian

Kondisi kucing pada hari kesembilan tampak bahwa kondisi kulit kucing telah menunjukkan pemulihan yang sangat baik. Area sekitar telinga dan kepala yang sebelumnya mengalami kerontokan bulu serta iritasi kini tampak lebih bersih, halus, dan tidak menunjukkan adanya luka aktif maupun kerak. Permukaan kulit terlihat lebih rata dan berwarna normal, dengan pertumbuhan bulu baru yang mulai menutupi area yang sebelumnya terinfeksi. Tidak tampak tanda-tanda peradangan seperti kemerahan, penebalan kulit, atau bekas garukan. Hal ini menunjukkan bahwa respon terhadap pengobatan sangat positif dan infeksi tungau Sarcoptes scabiei sudah teratasi dengan baik. Secara keseluruhan, pada hari terakhir pengobatan ini, kucing subjek menunjukkan kondisi kulit yang sehat dan stabil, menandakan bahwa proses penyembuhan telah berlangsung optimal dan pengobatan dapat dianggap berhasil.

Gambar 17: Kondisi kucing setelah pengaplikasian obat hari kesembilan

Sumber: Dokumentasi Penelitian

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi kunyit (Curcuma longa) dan minyak kelapa murni (Virgin Coconut Oil/VCO) efektif dalam mengatasi penyakit skabies pada kucing. Setelah dilakukan pengobatan secara rutin, terlihat adanya perbaikan kondisi kulit pada area yang terinfeksi, ditandai dengan hilangnya kerak, luka kering, serta mulai tumbuhnya rambut halus pada bagian yang sebelumnya mengalami kerontokan. Selain itu rasa gatal yang disebabkan aktivitas tungau Sarcoptes scabiei juga telah hilang ditandai dengan tidak adanya perilaku menggaruk ke area telinga yang dilakukan kucing. Selama masa pengobatan tidak ada reaksi alergi yang ditunjukkan oleh kucing subjek.

Efektivitas ini menunjukkan bahwa kombinasi bahan alami tersebut mampu memberikan efek terapeutik yang signifikan terhadap infeksi tungau Sarcoptes scabiei penyebab skabies. Temuan ini sejalan dengan pendapat Akram dkk (2019) yang menyatakan bahwa untuk pengobatan skabies, kunyit memiliki efek terbaik karena aktivitas antiinflamasi dan antiseptiknya.

Sifat antiinflamasi pada kunyit juga berperan penting dalam mengurangi peradangan dan rasa gatal pada kulit yang terinfeksi, sedangkan aktivitas antiseptik membantu mencegah infeksi sekunder akibat luka terbuka yang sering muncul pada kasus skabies.

Skabies disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei yang menyerang kulit, menimbulkan peradangan, rasa gatal, dan luka akibat garukan. Antioksidan dalam kunyit menetralkan radikal bebas dan mengurangi stres oksidatif pada jaringan kulit yang terinfeksi. Hal ini membantu menghambat kerusakan sel akibat infeksi dan peradangan, mempercepat regenerasi jaringan kulit, mengurangi rasa gatal dan iritasi. Hal ini sejalan dengan Wroblewski dkk (2024) juga menegaskan bahwa potensi antioksidan dari ekstrak tumbuhan kunyit, menunjukkan aktivitas signifikan terhadap Sarcoptes scabiei. Hal ini membuktikan bahwa senyawa aktif dalam kunyit seperti kurkumin mampu menghambat perkembangan tungau sekaligus mempercepat proses regenerasi jaringan kulit.

Minyak kelapa murni (VCO) dapat memperbaiki sel-sel kulit yang rusak. Sel-sel kulit telinga kucing subjek yang rusak akibat adanya aktivitas tungau Sarcoptes scabiei mampu diperbaiki dengan menggunakan minyak kelapa murni. Hal tersebut disebabkan karena kandungan VCO baik untuk melembabkan dan melumaskan kulit, menurunkan inflamasi, mendukung dalam perbaikan dan penyembuhan jaringan kulit (Linggi dkk, 2021). Minyak kelapa murni memiliki aktivitas anti inflamasi, yaitu melindungi kulit dengan meningkatkan fungsi daya tahannya.

Di sisi lain, penggunaan minyak kelapa murni (VCO) dalam kombinasi ini juga memberikan kontribusi penting terhadap penyembuhan. Solikhah dkk (2021) menjelaskan bahwa VCO memiliki kandungan fenol dan asam lemak rantai jenuh yang berfungsi sebagai agen penyembuhan alami. Kandungan tersebut mampu memperbaiki jaringan kulit yang rusak serta menjaga kelembapan kulit, sehingga mempercepat proses pemulihan pada area yang terinfeksi skabies.

Kombinasi antara kunyit dan minyak kelapa murni dalam penelitian ini terbukti memberikan efek sinergis, di mana kunyit berperan aktif dalam mengatasi peradangan dan infeksi tungau, sementara VCO membantu memperbaiki jaringan kulit serta meningkatkan daya serap senyawa aktif kurkumin  dari kunyit ke kulit kucing subjek yang terkena skabies. Hasil ini memperkuat pandangan bahwa penggunaan bahan alami yang memiliki aktivitas farmakologis saling melengkapi dapat menjadi alternatif terapi yang efektif, aman, dan ramah lingkungan untuk mengatasi penyakit skabies pada kucing tanpa menimbulkan efek samping yang berarti.

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa kombinasi kunyit (Curcuma longa) dan minyak kelapa murni (Virgin Coconut Oil) efektif digunakan sebagai obat alami untuk mengobati skabies pada kucing (Felis catus).

5.2 SARAN

Saran bagi peneliti selanjutnya yaitu untuk melakukan penelitian lanjutan dengan menambahkan variasi konsentrasi dan perbandingan antara kunyit dan minyak kelapa murni untuk mengetahui dosis paling efektif dalam mengobati skabies pada kucing. Selain itu, pengujian durasi waktu penyembuhan yang lebih panjang juga diperlukan untuk memastikan kestabilan efek terapeutik kombinasi bahan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Akram M., Riaz M., Noreen S., Shariati M. A., Shaheen G., Akhter N., Parveen F., Akhtar N., Zafar S., Ghauri A. O., Riaz Z., Khan F. S., Kausar S., & Zainab R. 2019. Therapeutic potential of medicinal plants for the management of scabies. Dermatologic Therapy. https://doi.org/10.1111/dth.13186

Arlian L.G, Morgan M.S. 2017. A review of Sarcoptes scabiei: past, present, and future. Parasit Vectors. 10(1):297-319.

Calista, Erawan I.G, Widyastuti S.K. 2019. Laporan kasus: penanganan toksokariosis dan skabiosis pada kucing domestik betina berumur enam bulan. Indonesia Medicus Veterinus. 8(5):660-668.

Chattopadhyay I, Biswas K, Bandyopadhyay U, Banerjee RK. 2004. Tumeric and curcumin; biological actions and medicinal applications. Current Sci. 87 (1): 44-53

Hengge U.R, Currie B.J, Jager G, Lupi O, Schwartz R.A.2006. Skabies: a ubiquitous neglected skin disease. Lancet Infect Dis. 6(12):769-779

Kristina N.N, Noveriza R, Syahid F.S., Rizal M. 2010. Peluang Peningkatan Kadar Kurkumin pada Tanaman Kunyit dan Temulawak. Bogor: Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik

Kusuma M.A., Putri N.A. 2020. Review: Asam Lemak Virgin Coconut Oil (VCO) dan Manfaatnya untuk Kesehatan. Jurnal AGRINIKA. 4(1): 93-107

Linggi E.B., Wirmando, Kurnia M., Tandi N. 2021. Pengaruh Pemberian Virgin Coconut Oil (VCO) Terhadap Luka Dekubitus Pada Pasien Tirah Baring Lama di RS. Stella Maris Makassar. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes. 12:120-123

Ocstavella N., Handayani D., Adriadi. 2024. Kasus Skabies (Sarcoptes scabiei) pada kucing di UPTD Pusat Kesehatan Hewan Kota Sungai Penuh. Journal of Microbiology and Biotechnology Tropics. 1(2):100-107.

Rukmana, R. 1999. Kunyit. Cetakan Pertama. Yogyakarta: Kanisius.

Septiana D.S., Amir Y.S., Sujatmiko, Siregar R., Zelpina E., Sari R.K., Silfia E. 2022. Pengobatan Scabies pada Kucing Campuran Persia di UPTD Pusat Kesehatan Hewan Bukittinggi. Journal of Applied Veterinary Science and Technology. 03: 27-30

Setyowati, A., Chatarina L.S., 2013. Peningkatan Kadar Kurkuminoid dan Aktivitas Antioksidan Minuman Instan Temulawak dan Kunyit. Jurnal Agritech. 4(33)

Sihombing E.R, Yuniarlina R, Supardi S. 2016. The effectiveness of back massage using virgin coconut oil and white petroleum jelly to prevent pressure sores. J Keperawatan Muhammadiyah. 1(2):1-9.

Solikhah, T. I., Solikhah, G. P., & Susilo, R. J. K. (2021). Aloe vera and Virgin Coconut Oil (VCO) accelerate healing process in domestic cat (Felis domesticus) suffering from scabies. Iraqi Journal of Veterinary Sciences. 35(4): 699-704.

Susanto, H., & Kartiningrum, M., & Wahjuni, R., & Warsito, S., & Yuliani, M. 2020. Kasus Skabies (Sarcaptes scabiei) pada Kucing di Klinik Intimedipet Surabaya. Jurnal Biosains Pascasarjana. 22(2020).

Wardhana A.H, Manurung J, Iskandar T. 2016. Skabies: tantangan penyakit zoonosis masa kini dan masa datang. Wartazoa. 16(1): 40-52.

Winarto, W.P. 2004. Khasiat dan Manfaat Kunyit. Jakarta: Agromedia Pustaka.

Wróblewski M., Wróblewska J., Nuszkiewicz J., Mila-Kierzenkowska C.,Wo´zniak A. 2024. Antioxidant Potential of Medicinal Plants in the Treatment of Scabies Infestation. Molecules, 29 (5310). https://doi.org/10.3390/ molecules29225310