
Dalam upaya menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal sejak dini, murid SMP IT Al-Kautsar mengikuti kegiatan kokurikuler yang sarat akan nilai tradisi dan kearifan lokal, yaitu bermain permainan tradisional Melayu congklak.

Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari program kokurikuler sekolah yang bertujuan untuk memperkaya pengalaman belajar murid di luar pembelajaran akademik, sekaligus mengenalkan warisan budaya daerah Melayu Riau secara langsung dan menyenangkan.

Congklak merupakan salah satu permainan tradisional yang telah dikenal luas di Nusantara, termasuk di wilayah Melayu Riau. Permainan ini telah dimainkan secara turun-temurun oleh masyarakat Melayu sejak dahulu kala. Dalam budaya Melayu, congklak tidak sekadar permainan, tetapi juga menjadi sarana interaksi sosial, melatih kesabaran, ketelitian, serta kecerdikan dalam menyusun strategi.

Dahulu, congklak sering dimainkan oleh anak-anak dan kaum ibu di serambi rumah pada sore hari, menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Melayu yang sederhana, hangat, dan penuh kebersamaan.
Di wilayah Riau, congklak dikenal sebagai permainan yang mencerminkan nilai-nilai budaya Melayu, seperti sportivitas, kejujuran, dan kebersamaan. Biji congklak yang digunakan, biasanya berupa kerang, biji-bijian, atau batu kecil, melambangkan kesederhanaan hidup masyarakat Melayu yang dekat dengan alam. Papan congklak dengan lubang-lubang simetris juga mengajarkan keseimbangan dan keteraturan, nilai yang dijunjung tinggi dalam adat dan budaya Melayu Riau.

Dalam pelaksanaan kegiatan kokurikuler ini, murid tampak antusias dan bersemangat. Mereka duduk berpasangan, saling berhadapan, dengan papan congklak di tengah. Sebelum permainan dimulai, murid terlebih dahulu dikenalkan aturan permainan serta makna budaya yang terkandung di dalamnya. Dengan penuh konsentrasi, murid mulai mengedarkan biji congklak dari satu lubang ke lubang lainnya, menghitung dengan teliti, dan menyusun strategi agar dapat mengumpulkan biji terbanyak di lumbung miliknya.

Suasana kegiatan terlihat hidup dan menyenangkan. Tawa ringan dan ekspresi serius bergantian muncul dari wajah murid saat mereka berusaha memenangkan permainan. Murid juga belajar menerima kekalahan dan kemenangan dengan sikap sportif. Tanpa disadari, melalui permainan congklak ini, murid tidak hanya melatih kemampuan berhitung dan berpikir strategis, tetapi juga mengembangkan karakter, kerja sama, serta sikap saling menghargai antar sesama.

Kegiatan kokurikuler ini menjadi sarana yang efektif untuk menanamkan nilai budaya sekaligus membangun kebersamaan di antara murid. Mereka terlihat bangga dapat memainkan permainan tradisional yang merupakan bagian dari identitas budaya daerahnya. Bagi sebagian murid, kegiatan ini menjadi pengalaman baru yang berkesan, karena sebelumnya mereka lebih akrab dengan permainan modern berbasis gawai.

Kepala SMP IT Al-Kautsar, Ibu Melia Henny M, S.Pd., M.M, menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan kegiatan ini.
“Melalui permainan tradisional congklak, kami ingin murid tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga mengenal dan mencintai budaya lokalnya. Budaya Melayu Riau adalah identitas yang harus dijaga dan diwariskan, dan sekolah memiliki peran penting dalam hal tersebut,” ungkap beliau.
Senada dengan hal tersebut, Koordinator Kokurikuler SMP IT Al-Kautsar, Ibu Willa Octania, S.Pd., Gr, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna.
“Kokurikuler tidak hanya berisi kegiatan keterampilan, tetapi juga penguatan karakter dan budaya. Melalui congklak, murid belajar nilai kesabaran, strategi, kejujuran, serta kebersamaan dengan cara yang menyenangkan dan sesuai dengan budaya Melayu Riau,” jelasnya.
Dengan adanya kegiatan kokurikuler bermain congklak ini, SMP IT Al-Kautsar menunjukkan komitmennya dalam mengintegrasikan pendidikan karakter, pelestarian budaya, dan pembelajaran yang menyenangkan. Diharapkan, murid tidak hanya mengenal permainan tradisional sebagai hiburan semata, tetapi juga memahami nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya serta menjadikannya bagian dari jati diri sebagai generasi penerus budaya Melayu Riau.
