
Selasa, 20 Mei 2025, menjadi hari yang penuh antusias bagi anggota Sains Club SMP IT Al-Kautsar, khususnya para peserta didik dari kelas VII dan VIII Arrijal (Putra) yang tergabung ke dalam ekstrakurikuler Sains.
Kegiatan ekstrakurikuler ini dipandu oleh Ibu Lilik Efendi, S.Pd.

Kegiatan kali ini mengangkat tema yang sangat menarik dan aplikatif dalam kehidupan sehari-hari, yaitu hidroponik sederhana.
Hidroponik merupakan metode bercocok tanam tanpa menggunakan tanah, di mana akar tanaman tumbuh pada media tertentu (rokwoll) dan diberi nutrisi dalam bentuk larutan. Sistem ini sangat cocok untuk lingkungan urban atau lahan terbatas karena lebih bersih, efisien, dan tidak membutuhkan banyak ruang. Melalui sitem hidroponik, tanaman tetap mendapatkan unsur hara yang dibutuhkan melalui larutan nutrisi khusus, yang disebut AB Mix, dan pertumbuhannya dapat dipantau dengan lebih mudah.

Dengan suasana yang santai namun tetap penuh semangat, para siswa berkumpul untuk mendalami konsep dasar dari hidroponik, sebuah metode menanam tanpa menggunakan tanah.
Kegiatan ini menjadi sarana belajar yang menyenangkan karena siswa tidak hanya mendengarkan teori, tetapi juga langsung praktik dengan tangan mereka sendiri.

Tujuan dari kegiatan ini adalah mengenalkan peserta didik pada konsep pertanian modern berbasis sains, sekaligus melatih keterampilan praktis dalam membuat instalasi hidroponik sederhana.
Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk menumbuhkan rasa ingin tahu, kepedulian terhadap lingkungan, serta membiasakan peserta didik untuk berpikir kritis dan bekerja secara kolaboratif.

Ibu Lilik memulai kegiatan dengan memberikan penjelasan tentang apa itu hidroponik, bagaimana sistem kerjanya, serta manfaatnya dalam mendukung pertanian modern yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

Beliau juga memperkenalkan alat dan bahan yang akan digunakan, di antaranya media tanam rockwool dan larutan nutrisi AB mix yang menjadi sumber gizi bagi tanaman.

Selain itu juga ada bak dan tutup hidroponik, netpot dan sumbu, suntik takar 5 ml, nampan semai serta benih tanaman diantaranya benih kangkung, bayam, pakcoy, caisim.


Setelah sesi penjelasan, para siswa dibagi ke dalam kelompok kecil dan langsung memulai praktik pembuatan sistem hidroponik.
Pada tahap awal, kegiatan yang dilakukan yaitu tahap penyemaian benih. Suasana kegiatan terasa hidup dan antusias.
Para siswa dengan penuh rasa ingin tahu memberikan pertanyaan-pertanyaan saat Ibu Lilik menjelaskan langkah-langkah dalam penyemaian sistem hidroponik.

Pertama-tama, mereka diperkenalkan pada media tanam rockwool, yang kemudian dipotong kecil berbentuk kubus.

Setiap potongan rockwool kemudian dilubangi di bagian tengahnya, sebagai tempat untuk menaruh benih.



Setelah benih ditanam dalam lubang kecil di rockwool, langkah berikutnya adalah menyiram rockwool menggunakan air biasa. Penyiraman dilakukan dengan pelan dan hati-hati, agar benih tidak terbawa air dan tetap berada di tempatnya.

Rockwool yang telah disemai ini kemudian disimpan di dalam ruangan selama kurang lebih 12 hingga 24 jam, agar benih bisa beradaptasi dan mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

Setelah muncul tanda pecah benih, semaian akan mulai dipindahkan ke luar ruangan untuk dijemur setiap hari, dari pagi hingga sore hari. Penjemuran ini penting agar benih dapat tumbuh dengan baik dan menghasilkan daun.
Namun, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan, rockwool harus selalu dijaga tetap lembab. Oleh karena itu, selama proses penjemuran, siswa harus rutin membasahi rockwool agar pertumbuhan benih tidak terganggu.
Selain menyemai benih, para peserta didik juga belajar merangkai sumbu ke dalam netpot. Sumbu ini berfungsi untuk menyalurkan air dan nutrisi dari larutan ke media tanam sehingga akar tanaman tetap mendapat asupan cairan yang cukup. Kegiatan ini juga menjadi kesempatan untuk memahami bagian-bagian penting dalam sistem hidroponik.



Sebagai bekal lanjutan untuk tahap pertumbuhan tanaman, Ibu Lilik juga memperkenalkan larutan nutrisi AB Mix, yaitu campuran zat gizi yang dibutuhkan tanaman dalam sistem hidroponik.

Ibu Lilik menyampaikan bahwa takaran standar larutan adalah 5 ml larutan A + 5 ml larutan B + 1000 ml air biasa. Takaran ini penting agar tanaman mendapat nutrisi seimbang untuk tumbuh sehat dan optimal.
Melalui kegiatan ini, para siswa tidak hanya belajar tentang hidroponik, tetapi juga melatih ketelitian, kesabaran, dan tanggung jawab. Meskipun baru tahap awal, mereka sudah merasakan bagaimana serunya merawat tanaman sejak benih, dan tentu tak sabar menunggu saat tanaman mereka tumbuh besar dan siap panen.

Kegiatan ini menjadi langkah awal yang menjanjikan. Dengan semangat belajar dan praktik langsung seperti ini, Sains Club membuktikan bahwa sains bisa jadi menyenangkan, aplikatif, dan menyatu dengan kehidupan sehari-hari.
Kegiatan ini tidak hanya menambah ilmu, tetapi juga mempererat kebersamaan antar anggota Sains Club. Harapannya, dari kegiatan kecil ini akan tumbuh kecintaan terhadap dunia sains, terutama dalam bidang pertanian dan lingkungan.
Sains itu seru, bukan? Sampai jumpa di kegiatan Sains Club selanjutnya dengan proses perawatan tanaman hidroponik.
