
Awal Februari Tahun 2026 menjadi momen yang tak terlupakan bagi keluarga besar SMP IT Al-Kautsar. Di tengah semangat berkarya dan berkompetisi, kabar membanggakan datang dari Ajang Cendana Festival Project yang dilaksanakan pada 5–6 Februari 2026 dan diselenggarakan oleh SMAS Cendana Mandau.
Hanifa Nadhira Auji, murid kelas VII Aisyah, sukses meraih Juara 3 dalam lomba puisi pada Ajang Cendana Festival Project. Prestasi ini bukan sekadar tentang gelar juara, tetapi menjadi bukti nyata dari keberaniannya tampil di atas panggung, ketekunannya dalam berlatih, serta kecintaannya yang begitu tulus terhadap puisi melalui kekuatan kata-kata yang ia hidupkan dengan penuh penghayatan.
Di balik penampilan memukau Hanifa di atas panggung, ada proses panjang yang ia jalani. Selama masa persiapan, Hanifa dibimbing oleh Ibu Eva Miswalda, S.Pd., Gr. Latihan demi latihan dijalani dengan penuh kesungguhan.
Hanifa tidak hanya diminta menghafal teks puisi, tetapi juga memahami makna di setiap baitnya. Ia belajar mengatur intonasi, jeda, ekspresi wajah, hingga gestur tangan agar setiap kata terasa hidup. Terkadang latihan dilakukan sepulang sekolah, bahkan diulang-ulang agar penghayatan benar-benar matang.
Ibu Eva dengan sabar mengarahkan bagaimana membangun emosi, kapan suara harus meninggi, kapan harus lirih, dan bagaimana menatap penonton dengan penuh keyakinan. Perjuangan itu tidak selalu mudah. Ada rasa lelah, ada gugup, tetapi Hanifa memilih untuk terus berlatih dan memperbaiki diri.
Di atas panggung Cendana Festival Project, Hanifa tampil dengan penuh percaya diri dan ketenangan yang memukau. Tatapan matanya tajam menyampaikan makna, sementara pengaturan intonasi dan jeda yang tepat membuat setiap bait terasa hidup. Sejak kata pertama terucap, suasana ruangan langsung hening, dan para penonton pun terhanyut dalam penghayatan yang ia bangun dengan begitu kuat.

Ia membawakan dua puisi, yaitu Sajak Buat Negaraku karya Kriapur dan Kepada Kawan karya Chairil Anwar.
Dengan suara yang mantap dan penghayatan mendalam, Hanifa membacakan:
Sajak bagi Negaraku, Karya Kriapur
Di tubuh semesta tercinta
buku-buku negeriku tersimpan
setiap gunung-gunung dan batunya
padang-padang dan hutan
semua punya suara
semua terhampar biru di bawah langitnya
tapi hujan selalu tertahan dalam topan
hingga binatang-binatang liar
mengembara dan terjaga di setiap tikungan
kota-kota.
Di antara gebalau dan keramaian tak bertuan
pada hari-hari sebelum catatan akhir
musim telah merontokkan daun-daun
semua akan menangis
semua akan menangis
laut akan berteriak dengan gemuruhnya
rumput akan mencambuk dengan desaunya
siang akan meledak dengan mataharinya
dan musim-musim dari kuburan
akan bangkit
semua akan bersujud
berhenti untuk keheningan.
Pada yang bernama keheningan
semua akan berlabuh
bangsaku, bangsa dari segala bangsa
rakyatku siap dengan tombaknya
siap dengan kapaknya
bayi-bayi memiliki pisau di mulut
tapi aku hanya siap dengan puisi
dengan puisi bulan terguncang
menetes darah hitam dari luka lama.
Kemudian ia melanjutkan dengan penuh semangat dan energi saat membawakan:
Kepada Kawan, Karya Chairil Anwar
Sebelum ajal mendekat dan mengkhianat,
mencengkam dari belakang ketika kita tidak melihat,
selama masih menggelombang dalam dada darah serta rasa,
belum bertunas kecewa dan gentar belum ada,
tidak lupa tiba-tiba bisa malam membenam,
layar merah terkibar hilang dalam kelam,
kawan, mari kita putuskan kini di sini:
Ajal yang menarik kita, juga mencekik diri sendiri!
Jadi
Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan,
Tembus jelajah dunia ini dan balikkan,
Peluk kecup perempuan, tinggalkan kalau merayu,
Pilih kuda yang paling liar, pacu laju,
Jangan tambatkan pada siang dan malam
Dan
Hancurkan lagi apa yang kau perbuat,
Hilang sonder pusaka, sonder kerabat.
Tidak minta ampun atas segala dosa,
Tidak memberi pamit pada siapa saja!
Jadi
Mari kita putuskan sekali lagi:
Ajal yang menarik kita, ‘kan merasa angkasa sepi,
Sekali lagi kawan, sebaris lagi:
Tikamkan pedangmu hingga ke hulu
Pada siapa yang mengairi kemurnian madu!!!
Suasana ruangan terasa hening saat ia membacakan bait-bait penuh makna itu. Beberapa penonton tampak terpaku, larut dalam emosi yang dibangun Hanifa.
Dan pada akhirnya, dari setiap bait yang ia lantunkan, Hanifa telah membuktikan bahwa puisi bukan sekadar rangkaian kata, melainkan suara hati yang mampu menembus ruang dan waktu. Di panggung itu ia berdiri sebagai murid yang berani bermimpi, dan lewat puisinya, ia meninggalkan jejak yang tak hanya terdengar—tetapi juga terasa.
Saat sesi pengumuman pemenang tiba, suasana semakin menegangkan. Nama demi nama disebutkan. Hingga akhirnya, terdengar nama Hanifa Nadhira Auji sebagai Juara 3 lomba puisi.

Senyum haru dan rasa syukur terpancar dari wajahnya. Piala, sertifikat, dan uang pembinaan menjadi simbol dari kerja keras yang telah ia perjuangkan.
Berita kemenangan ini pun segera sampai ke SMP IT Al-Kautsar dan disambut dengan penuh apresiasi oleh seluruh guru. Kebanggaan terasa begitu nyata.
Ibu Kepala Sekolah SMP IT Al-Kautsar, Ibu Melia Henny M, S.Pd., M.M, menyampaikan apresiasi mendalam: “Puisi adalah bahasa jiwa. Ketika Hanifa mampu menghidupkan puisi di atas panggung dan meraih juara, itu bukan hanya prestasi pribadi, tetapi kebanggaan sekolah. Semoga capaian ini menjadi langkah awal untuk terus berkarya dan menebarkan inspirasi melalui kata-kata.”
Guru pembimbing, Ibu Eva Miswalda, S.Pd., Gr, juga menyampaikan rasa bangganya: “Ibu menyaksikan sendiri bagaimana Hanifa berproses. Ia tidak mudah menyerah saat merasa kurang maksimal. Ia terus berlatih, memperbaiki intonasi, memperdalam makna. Juara ini adalah hasil dari kerja keras dan ketekunannya.”
Wali kelas VII Aisyah, Ibu Mechi Erniza, S.H., Gr, turut memberikan ucapan selamat: “Hanifa telah memberikan contoh teladan bagi teman-temannya di kelas VII Aisyah. Ia membuktikan bahwa keberanian mencoba dan kesungguhan berlatih bisa membawa hasil yang membanggakan.”
Rasa syukur juga disampaikan langsung oleh Hanifa atas capaian yang ia raih. Dengan penuh kerendahan hati ia mengatakan, “Saya sangat bersyukur atas kemenangan ini. Terima kasih untuk Ibu Kepala Sekolah, Ibu Eva sebagai pembimbing, wali kelas, orang tua, teman-teman dan semua guru yang sudah mendukung dan mendoakan. InsyaAllah ke depan saya ingin berusaha lebih maksimal lagi dalam mengembangkan potensi di bidang puisi, supaya bisa meraih hasil yang lebih baik dan kemenangan yang lebih tinggi lagi.”
Ucapan itu menjadi penutup yang indah dari perjalanan singkat namun penuh makna. Sebab bagi Hanifa, juara bukanlah akhir, melainkan awal untuk terus belajar, berlatih, dan menapaki tangga prestasi berikutnya dengan semangat yang lebih besar.
Prestasi Hanifa menjadi bukti bahwa SMP IT Al-Kautsar selalu memberikan ruang terbuka bagi seluruh murid untuk berkarya dan berprestasi. Sekolah terus mendukung minat dan bakat murid melalui bimbingan terbaik dari guru-guru profesional yang tidak hanya mengajar, tetapi juga mendampingi proses tumbuhnya potensi.
Hanifa telah menorehkan kisah indah lewat puisi, dan dari panggung itu, ia tidak hanya membawa pulang piala, tetapi juga membawa semangat bahwa setiap murid punya kesempatan untuk bersinar dengan caranya masing-masing.
