
Setiap tulisan lahir dari perjalanan. Ada yang lahir dari bahagia, ada yang tumbuh dari luka, dan ada pula yang menguat karena cinta. Begitulah kiranya kisah yang mengiringi langkah Muthia Salsabila Muiz, murid kelas IX Asma’ SMP IT Al-Kautsar, yang berhasil meraih Juara 3 Lomba Menulis Cerpen pada Ajang Cendana Festival Project yang dilaksanakan pada 5–6 Februari 2026 dan diselenggarakan oleh SMAS Cendana Mandau.
Prestasi ini bukan sekadar tentang kemenangan, tetapi tentang proses panjang, ketekunan, dan keberanian menuangkan rasa ke dalam rangkaian kata.
Cerpen yang ditulis Muthia berjudul Bangkit Lalu Sukses. Sebuah judul yang sederhana, tetapi menyimpan makna mendalam. Dalam ceritanya, Muthia menggambarkan perjuangan seorang anak yang hampir menyerah, namun kembali bangkit karena dukungan seorang ibu.
Salah satu penggalan cerpennya berbunyi: “Di saat aku hampir dinyatakan gagal untuk meng khatam kan Al – Qur’an itu dalam waktu yang singkat, semua orang pun pergi menjauh dari ku kecuali Ibu. Ia selalu ada dan membuat ku ingin terus bangkit dan melangkah maju hanya untuk nya . Dan akhirnya di detik – detik terakhir, aku berhasil mengkhatam kan Al – Qur’an.”
Penggalan itu begitu menyentuh. Ada rasa putus asa, ada kesendirian, tetapi juga ada cinta yang menguatkan. Tema tentang keteguhan, bakti kepada orang tua, dan semangat bangkit menjadi ruh utama dalam karya Muthia.
Sebelum mengikuti perlombaan, Muthia menjalani persiapan yang terarah di bawah bimbingan Ibu Chindy Nurfadillah, S.Pd., Gr, guru Bahasa Indonesia sekaligus pembimbing ekstrakurikuler Sastra SMP IT Al-Kautsar. Persiapan tidak dilakukan secara instan, tetapi melalui beberapa tahapan latihan yang melatih kepekaan ide dan ketajaman alur berpikir.
Muthia dibiasakan untuk banyak membaca cerpen dari berbagai penulis sebagai referensi, lalu mendiskusikan struktur cerita, teknik membuka paragraf, membangun konflik, hingga membuat penutup yang berkesan. Selain itu, ia juga berlatih menulis cerita berdasarkan tema yang ditentukan panitia lomba yaitu perjalanan menjadi pelajar hebat di mulai dari langkah kecil. Hal ini dilakukan agar Muthia terbiasa mengembangkan ide sesuai topik yang sudah ditetapkan, tanpa kehilangan kreativitas dan sentuhan emosional dalam ceritanya.
Ia pun berlatih menulis dengan batasan waktu tertentu, menyesuaikan dengan durasi lomba yang hanya dua jam. Latihan ini bertujuan melatih manajemen waktu, agar ia mampu menyusun kerangka, mengembangkan alur, dan menyelesaikan cerita secara utuh dalam waktu yang terbatas.
Dalam setiap sesi bimbingan, Ibu Chindy memberikan evaluasi secara detail, mulai dari pilihan kata, kekuatan pesan, konsistensi sudut pandang, hingga kedalaman konflik. Tidak jarang Muthia harus merevisi bagian tertentu agar lebih kuat dan menyentuh. Proses revisi yang berulang itu justru menjadi latihan berharga yang membentuk ketelitian dan kesabarannya dalam menulis.
Dari rangkaian persiapan tersebut, Muthia belajar bahwa menulis bukan hanya tentang inspirasi yang datang sesaat, tetapi tentang latihan yang konsisten, kemauan untuk memperbaiki diri, dan kesungguhan dalam mengembangkan potensi. Bekal itulah yang akhirnya membantunya tampil maksimal saat hari perlombaan tiba.
Perlombaan menulis cerpen ini dilaksanakan secara langsung di lokasi kegiatan dengan sistem on the spot. Seluruh peserta diberikan tema yang sama, yaitu tentang perjalanan menjadi pelajar hebat di mulai dari langkah kecil. Dari tema tersebut, setiap peserta diminta mengembangkan ide dan alur cerita sesuai dengan kreativitas masing-masing.
Waktu yang diberikan untuk menulis adalah 2 jam. Dalam rentang waktu tersebut, peserta harus menyusun kerangka cerita, membangun konflik, mengembangkan karakter, hingga menyelesaikan ending dengan runtut dan menarik. Cerpen ditulis tangan langsung di atas kertas yang telah disediakan panitia, sehingga ketelitian, kerapian tulisan, serta manajemen waktu menjadi bagian penting dalam penilaian.
Suasana ruangan terasa hening dan penuh konsentrasi. Setiap peserta tampak serius menunduk di atas kertasnya, berpacu dengan waktu untuk menghadirkan cerita terbaik. Di tengah keterbatasan waktu itulah, Muthia berusaha tetap tenang, menyusun ide dengan terarah, dan menuliskan kisah yang penuh makna hingga detik terakhir perlombaan.
Detik-detik pengumuman pemenang menjadi momen yang paling mendebarkan. Nama demi nama disebutkan. Hingga akhirnya, terdengar nama Muthia Salsabila Muiz sebagai Juara 3 Lomba Menulis Cerpen.
Rasa haru dan syukur langsung terpancar dari wajah Muthia saat namanya diumumkan sebagai Juara 3. Semua proses latihan, revisi, dan perjuangan yang ia jalani seakan terbayar tuntas pada momen itu. Penghargaan yang ia terima menjadi bukti nyata bahwa ketekunan dan kesungguhan tidak pernah mengkhianati hasil.
Kabar bahagia tersebut pun segera sampai ke SMP IT Al-Kautsar. Para guru menyambutnya dengan penuh rasa bangga dan apresiasi. Suasana sekolah terasa semakin hangat, karena satu lagi murid terbaiknya berhasil menorehkan prestasi dan mengharumkan nama sekolah di ajang bergengsi.
Ibu Kepala Sekolah SMP IT Al-Kautsar, Ibu Melia Henny M, S.Pd., M.M, menyampaikan apresiasi yang mendalam: “Selamat untuk Muthia atas prestasi yang diraih. Ini adalah bukti bahwa budaya literasi di sekolah kita terus tumbuh dan membuahkan hasil. Menulis adalah keterampilan berpikir tingkat tinggi. Teruslah melatih diri, membaca lebih banyak, dan menulis lebih dalam. Semoga prestasi ini menjadi langkah awal untuk capaian yang lebih besar di masa depan.”
Guru pembimbing, Ibu Chindy Nurfadillah, S.Pd., Gr, juga menyampaikan rasa bangganya: “Muthia menunjukkan kesungguhan luar biasa selama proses latihan. Ia tidak pernah mengeluh saat harus merevisi tulisannya berulang kali. Ia mau belajar, mau mendengar masukan, dan terus memperbaiki diri. Juara ini adalah hasil dari perjuangan dan konsistensinya.”
Wali kelas IX Asma’, Ibu Raisa Shahilla, S.Pd., Gr, turut memberikan ucapan selamat: “Di kelas, Muthia dikenal sebagai murid yang tenang, tekun, dan memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi. Ia juga gemar membaca dan aktif saat diskusi. Prestasi ini mencerminkan karakter baik yang selama ini ia tunjukkan di kelas.”
Muthia sendiri dengan penuh kerendahan hati menyampaikan, “Saya sangat bersyukur atas kemenangan ini. Terima kasih kepada Ibu Kepala Sekolah, Ibu Chindy sebagai pembimbing, wali kelas, orang tua, dan semua guru yang telah mendukung. Ke depan, saya ingin terus melatih diri, lebih rajin membaca dan menulis, serta meningkatkan kemampuan literasi agar bisa meraih prestasi yang lebih baik lagi.”
Prestasi Muthia menjadi bukti bahwa SMP IT Al-Kautsar selalu memberikan ruang terbuka bagi seluruh murid untuk berkarya dan berprestasi. Sekolah tidak hanya fokus pada pembelajaran akademik, tetapi juga mendukung pengembangan minat dan bakat melalui bimbingan guru-guru profesional yang kompeten di bidangnya.
Di bawah pendampingan yang tepat, setiap murid diberi kesempatan untuk menemukan potensi terbaiknya, baik di bidang sastra, sains, olahraga, seni maupun bidang lainnya.

Dan dari selembar kertas yang dipenuhi kata-kata itu, Muthia telah membuktikan bahwa tulisan mampu mengubah rasa menjadi kekuatan, dan kekuatan itu mengantarkannya pada prestasi.
Sebab pada akhirnya, karya yang lahir dari hati akan selalu menemukan jalannya untuk dihargai. Dan perjalanan Muthia hari ini adalah pengingat bahwa siapa pun yang mau bangkit dan berusaha, akan menemukan versi suksesnya sendiri.
