Cerpen Inspiratif Guru SMP IT Al-Kautsar "Chindy Nurfadillah": Sejuta Ketakjuban dan Sejuta Kejutan

Sejuta Ketakjuban dan Sejuta Kejutan

“Allahhuakabar… Allahuakbar…Allahhuakbar… “

Bunyi alarm  begitu syahdu yang setia membangunkanku setiap pagi. Jam sudah menunjukkan pukul 04.50 WIB.  Aku pun langsung bergegas menuju kamar mandiku. Hari ini adalah waktu yang kunantikan setelah sekian abad lamanya. Hari di mana aku tidak menjadi sosok gadis kecil yang selalu termenung setiap pagi di depan pintu, melihat lalu lalang teman-teman sebayaku menggunakan seragam kerja kebanggannya.

“Chindy…Chindy,,, cepat dong, jadi berangkat bareng gak ni???”, ucap abangku dari teras rumah. Aku pun bergegas berangkat bersama abangku. Tak terasa setelah 15 menit berjalan, aku pun sampai di tempat kerjaku.

Pagi ini langkah kakiku ditemani oleh langit cerah dan kicauan burung merdu bersaut-sautan,  sepertinya langit dan kicauan burung itu  mengetahui isi hatiku saat ini.

“SMP IT Al Kautsar”, sekolah terfavorit di kota kelahiranku Duri, Riau yang terletak di Jalan Kayangan, Gang Mutiara. Ada perasaan bangga yang membuncah di hatiku, “Ternyata aku bisa bekerja di sekolah impianku ini, aku luar biasa”, ucapku di dalam hati.  (“Ooops, maaf bukan bermaksud sombong ya, heheh”).

Ini  adalah hari pertamaku  menginjakkan kaki di sekolah Islam  Terpadu Al Kautsar. Dengan semangat aku melangkahkan kakiku disertai dengan bawaan map yang berisikan modul ajar yang sudahku persiapkan jauh-jauh hari. Disambut dengan rasa takjub, mataku tertuju kepada  gedung sekolah tiga tingkat. “Masya Allah, bagus banget sekolah ini”, ucapku di dalam hati. Aku terus berjalan menelusuri teras-teras kelas dengan suara anak-anak yang menyapaku dengan sebutan “Ustadzah”. “Assalammualaykum Ustadzah”, sapa anak perempuan yang berada di dekatku. Aku menyeringai sejenak karena terasa asing olehku kata yang diucapkan anak perempuan tersebut, yang aku tahu sebutan ustadzah hanya untuk seorang penceramah. “Waalaykumusalam nak”, ucapku kepadanya. Aku memerhatikan disekitarku anak-anak perempuan berpakaian tertutup dengan hijab yang menjulur ke bawah beserta ciput yang menutupi anak rambut.

Dari kejauhan akupun melihat beberapa guru laki-laki dan perempuan berdiri di lapangan.  Anak-anak  tersebut secara bergantian menyalami guru yang berada di lapangan. Aku pun segera  menuju lapangan untuk ikut bersalaman. Aku disambut hangat dan diberi tahu salah satu kebiasaan di sekolah ini, setiap pagi guru maupun siswa menerapkan 3S yaitu Senyum, Salam, dan Sapa. Setelah bersalaman, aku pun  meninggalkan guru yang berada di lapangan.

Kakiku melangkah keruangan guru, akupun  disambut hangat oleh rekan sejawat, dengan senyum tersipu malu aku memperkenalkan diriku sebagai  seorang guru baru yang mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia. “Chindy”, ucapku kepada teman sejawatku yang sangat welcome dengan kehadiranku. Setelah memperkenalkan diri dan  bercengkrama cukup lama, aku pun bertanya mengenai sekolah ini. Ternyata sekolahku ini sangat disiplin dan luar biasa. Mulai dari adanya kegiatan piket guru guna mengontrol anak, tetapi ada hal yang lebih  menarik yaitu di sekolah ini khusus lantai dua diberi julukan PA yang merupakan daerah kekuasaan arrijal, dan PI untuk annisa yang berada lantai tiga. Ternyata di sekolahku ini, kelas Arrijal dan Annisa’ dipisah.

Setelah beberapa menit aku memperkenalkan diri, bel pagi pun  berbunyi pertanda masuk kelas. Aku segera menuju kelas. Lagi-lagi aku merasa takjub dikarenakan setiap anak tangga disuguhi foto prestasi anak mulai akademik maupun non akademik. Mataku tertuju pada satu foto anak laki-laki, dengan keterangan prestasi di fotonya dengan keterangan Hafizh Al Qur’an 30 Juz. Tubuhku bereaksi kagum, bulu-bulu halus ditangan ku mulai berdiri aku benar-benar merasa kagum dan malu karena seumuran anak SMP, 14 tahun sudah mampu menghafal 30 juz. “Masya Allah, hebat sekali anak ini”, ucapku di dalam hati.

Tangga demi anak tangga ku lewati. Tak terasa, langkah kakiku terhenti di sebuah ruang yang bertuliskan ruangan kelas Bahasa Indonesia Pi yaitu ruangan yang akan menjadi tempat aku mengajar pada pagi ini. Aku bersama anak-anak berdiri di depan kelas sembari mengikuti alunan suara speaker dari lantai satu, lagu Indonesia Raya. Ketika instrument lagu itu dilantunkan, seluruh aktifitas terhenti, orang-orang yang berjalanpun berhenti sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan posisi siap dan tegap.

Setelah selesai menyanyikan lagu  Indonesia Raya,  ketua kelas langsung mengambil alih untuk mengkomandani teman-temannya. Mereka berbaris beraturan lalu melempar senyuman manis  kepadaku. “Assalammualaikum Ustadzah”, ucapnya kepadaku. ‘Waalaykumsalam nak”, ucapku. Dengan semangat yang berapi-api, kumasuki kelas dengan senyuman termanis melebihi gula karena bertemu dengan anak-anak  yang cantik dan shalehah. Akupun mempersilahkan mereka untuk duduk. Dan sabuah ketakjuban terjadi lagi karena mereka menduduki kelas secara beraturan tanpa adanya suara riuh. Pembelajaran dimulai saat doa selesai dilantunkan, hal yang buat aku takjub lagi sebelum berdoa belajar mereka melantukan ayat suci Al qur-an dan itu disebut murajaah. Aku mulai pembelajaran dengan salam dan perkenalkan diri, aku diamanahkan sebagai guru Bahasa Indonesia kelas tujuh, mereka merespon sangat antusias, pembelajaran berlangsung secara khidmat dan tertib. Jarum jam di dinding kelasku sudah menunjukkan jam 10 pagi, belpun berbunyi tanda waktu istirahat tiba. Aku mengakhiri pelajaran dengan membaca do’a kafaratul majelis. Dan anak-anak pun keluar kelas secara tertib sambil bersalaman denganku. Setelah itu,  aku meninggalkan kelas dengan rasa lega karena hari pertamaku mengajar sangat berkesan.

Setelah beberapa menit, akupun menuruni anak tangga dengan dibelakangku segerombolan anak yang menenteng mukena, dalam hatiku menyeru “Apakah sudah waktu shalat, tapi ini belum waktu shalat dzuhur tiba”, lalu aku bertanya kepada salah satu anak. “Mau kemana nak?”, dengan suara halus ia menjawab, “Mau shalat dhuha ustadzah, mari ustadzah”. Aku termenung sejenak, aku tidak menghitung hari ini sudah berapa kali ketakjuban yang terjadi padaku oleh sekolah ini. Seluruh anak serentak melaksanakan shalat dhuha ke mesjid. Akupun bergegas mengambil mukena dari tas pink milikku dan mengikuti anak-anak tersebut. Setelah 3 menit berjalan, aku pun sudah sampai di mesjid yang berada di lantai dua.  Dimana lantai satu adalah tempat untuk berwudhu.

Sudah selesai aku berwudhu cepat langkah kakiku menuju mesjid, kupandangi shaf yang teratur rapi. Anak-anak sudah memulai shalat dengan takbir, segera aku memulai shalat. Selesai melaksanakan shalat, segera kulipat mukena dengan rapi. Saat kendak menuju keluar mesjid, akupun dihampiri oleh beberapa anak. Mereka secara bergantian menyalamiku dengan rasa semangat, mereka bertanya mengenai identitasku karena wajahku pastinya asing bagi mereka. Satu persatu pertanyaan mereka aku jawab dan tersenyum sembari turun ke bawah untuk keluar mesjid.

Tak terasa perutku berbunyi seperti alarm pagi yang membangunkan ku. Pertanda perutku harus diisi dengan makanan lezat. Akupun menuju sebuah bangunan yang tertulis “Pujasera”, Pusat Jajajan Serba ada” ucapku di dalam hati. Aku merasa asing dengan nama itu karena sudah terbiasa dengan sebutan kantin.

Mataku disuguhi oleh beberapa makanan beserta konter-konter yang menawarkan berbagai jenis makanan. Aku menuju kasir dekat pintu. Aku merogoh uangku yang berada di saku rokku. Ibu kantin menyapa ramah ku lalu berkata “Ibu guru baru ya?, “Iya bu”, kujawab beserta senyuman hangat. “Ibu mau beli apa, kalau disini belanja harus menukarkan uang dengan voucher terlebih dahulu”, ucap ibu penjaga pujasera bernama Ida kepadaku.  “Oh iya bu, saya mau nukar voucher 20rb”, ucapku. Dengan cekatan Bu Ida memberikan voucher berwarna biru sebanyak empat lembar.

Kakiku melangkah ke konter yang bertuliskan “Menyediakan batagor, cilok dan ayam geprek”. Belum terlintas dibenakku untuk membeli makanan yang akan mengenyangkan perut mungilku. Setelah beberapa menit memilih makanan,  akupun tertuju pada konter yang bertuliskan “ Batagor dan Cilok”

Aku menyeru diantara kerubunan anak-anak, “Ibu saya mau cilok dan batagor ya”, ucapku. “Siap bu, tunggu sebentar ya”. Aku menunggu dikursi panjang yang dipasangkan dengan meja. Sambil duduk aku mengamati situasi Pujasera, ramai sekali anak-anak namun mereka dengan sabar dan teratur untuk berbelanja. Aku lirik sebelah kiriku terdapat sebuah papan yang kuyakini ini sebuah pemisah antara annisa dan arrijal. Sungguh takjub aku dengan sekolah ini, sangat menerapkan ajaran Islam dengan memisahkan antara annisa dan arrijal. Beberapa menit setelah aku memesan makanan, akhirnya makananku siap. Segera aku santap kedua makanan yang telah aku pesan. “Masyallah sungguh lezat sekali makanan ini, Alhamdulillah”, ucapkku. Setelah menyantap batagor dan cilok lalu aku buang bungkusnya ketong sampah besar yang ada di pintu keluar.

Aku bergegas menuju ruang guru, sudah ramai para rekan sejawatku. Aku melanjuti ceritaku beserta mengenal lebih jauh mengenai sekolah ini. Tak lama berbincang-bincang, bel masuk pun berbunyi. Seluruh guru bergegas untuk memasuki kelas mereka masing-masing. Aku menuju lantai 2 untuk mengajar murid arrijal. Hatiku berdegup kencang saat memasuki kelas. Menurut pandanganku jika mengajar anak laki-laki itu sulit. Mereka pasti susah diatur.

Seketika kakiku terhenti dan aku takjub, yang benar saja anak-anak murid sudah duduk rapi menungguku di dalam kelas. Baru saja aku mengkhawatirkan karena mengajar arrijal yang sulit.  Akupun langsung tertampar keras setelah menyaksikan anak-anak sudah duduk rapi di kursi mereka masing-masing. Mengucap salam, aku memasuki kelas. “ Assalammualaikum, dengan serentak mereka pun langsung berdiri dari tempat duduknya. “Waalaikumsalam” dengan serentak mereka menjawab. Aku kebingungan, mereka tetap bediri tegap di depan bangkunya masaing-masing.  Ternyata mereka menungguku untuk mempersilahkan duduk.  Dengan cepat aku mempersilahkan mereka duduk, akhirnya mereka kembali duduk.

Aku mulai pembelajaran dengan semangat dan respon antusiasis. Aku senang sekali pembelajaran berjalan dengan atraktif. Ketakutanku disapu bersih oleh sikap mereka. Namun senyumku sirna saat mataku tertuju oleh seorang anak yang duduk disudut kelas yaitu Denis Saputra. Aku mengetahui namanya melalui absen yang berada di tanganku. DIisaat yang lain asyik dan semangat saat pembelajaran berlangsung tetapi berbeda 180 derajat dengannya. Ia hanya duduk dengan posisi kepala menekun ke bawah. Rasa penasaranku mulai menghantui. Dengan sigap dan hati yang menggebu-gebu ingin melontarkan beberapa pertanyaan agar rasa penasaranku terjawab kepadanya.

“Hai nak, kamu sedang apa?”, tanyaku dengan kebingungan. “Gak ada bu”, jawabnya dengan ketus. Mendengar respon seperti itu rasa penasaranku semakin memuncak. Kembali kulontarkan pertanyaan, “Apakah kamu sedang mengantuk atau sakit nak?”, tanyaku dengan nada sedikit tinggi. “Tidak bu”, lagi-lagi dengan jawaban beserta nada yang ketus. Segera kuraih kursi tak berpenghuni yang berada di depanku, kupindahkan di posisi sebelahnya. Terdiam sejenak sambil aku memikirkan strategi untuk mengambil hati anak ini. Kuawali dengan gurauan “Kamu ini cool banget jadi pria”, kataku dengan senyuman menggelitik. Sontak iya tersipu malu setelah mendengar perkataanku. Kulanjuti dengan gurauan sampai ia bisa meresponku dengan baik.

Sampai pada akhirnya ia tertawa lepas, sehingga beribu mata tertuju kepada kami berdua. Mereka seperti kaget melihat respon Denis. Tak sadar bel istirahat kedua pun berbunyi pertanda waktu shalat zuhur dan istirahat makan siang sudah masuk. Kuakhiri pembelajaran hari ini.

Suara mik yang terdengar jelas suara seorang guru laki-laki,  “Kepada anak-anak bapak baik arrijal maupun annisa segera menuju mesjid, tidak ada yang singgah atau masih berada di pekarangan sekolah” suara tegas itu yang jelas kudengar, kulihat anak-anak bergegas menuju mesjid dengan pengawasan guru.

Aku bergegas ke mesjid bersama anak-anak. Tempat wudhu sudah penuh oleh anak-anak yang secara tertib mengantri giliran untuk ke kamar mandi dan berwudhu. Tiba giliranku untuk berwudhu, kubuka kran yang berwarna putih yang sedikit berkarat. Air yang mengalir begitu deras siap untuk digunakan berwudhu. Kupercepat langkahku karena adzan sudah berkumandang, sayup-sayup  aku mendengar anak-anak menjawab adzan. Sungguh takjub ku mendengarnya. Ku lihat mereka berada di shaft yang berjejer rapi. Mereka serentak berdiri untuk melaksanakan shalat sunah qobliyah, setelah itu diikuti dengan shalat zuhur berjama’ah dan diakhiri dengan shalat ba’diyah. Setelah selesai melaksanakan shalat, anak-anak bergegas menuju pujasera maupun ke kelas masing-masing untuk menyantap makan siang.

Bel  masuk berbunyi anak-anak bergegas menuju kelas masing-masing. Kali ini aku tidak ada jadwal mengajar, Kesempatan ini aku pergunakan untuk menngeksplor sekolah ini. Aku berjalan menelusuri satu persatu ruangan. Mataku tertuju di sebuah lemara kaca yang berukuran cukup besar. Lemari itu berisikan piala yang berjejer rapi, mulai dari ukuran besar ke ukuran kecil.

Satu persatu kupandangi piala itu. Lagi-lagi aku merasa takjub banyak sekali prestasi yang sudah diukir oleh sekolah ini. Terdapat mading besar persegi panjang dengan pintu kaca yang bisa digesar kekiri dan kanan. Mading yang berisikan informasi beserta kumpulan karya siswa yang dipajang indah. Beranjak dari mading terdapat ruangan komputer yang lengkap dan sangat memadai untuk proses pembelajaran, beranjak kesebelah terdapat labor IPA dengan berbagai atributnya seperti tengkorak, alat-alat eksperimen kimia. Disampingnya terdapat UKS dengan kasur yang nyaman beserta obat-obatan. Kuperhatikan disetiap ruang kelas dilengkapi smart TV dan  tempat penyimpanan berbentuk kotak dengan bahan kayu yang dilengkapi gembok yaitu disebut loker. Di setiap loker diberi tanda kepunyaan berupa nama lengkap siswa. Fasilitas di sekolah ini sangat menakjubkan, lengkap sangat senang rasanya berada di sini.

Pandanganku dialihkan dengan anak-anak arrijal yang sedang belajar olahraga di lapangan. Terik matahari tidak menyurutkan semangat mereka untuk berolahraga, namun aku melihat Denis yang lagi berdiam diri, dipinggir lapangan. Rasa penasaranku muncul kembali, kaki ini melangkah menghampiri Denis, “Denis” sapaku. “Kamu kenapa tidak ikut berolahraga nak?” tanyaku. “Hmm saya lagi sakit bu”, jawabnya dengan nada yang lumayan santai. “Kalau sakit kenapa tidak istirahat di UKS saja”, tanyaku. “Engga bu, saya di sini saja”, kali ini dia menjawab dengan senyuman hangat. Sangat berbeda responnya saat pertama kali aku bertemu dengannya.

Aku memikirkan bagaimana caranya untuk dapat mendekati Denis, sontak aku memiliki ide. “Den,  ayo temenin ibu berkeliling sekolah”, tanyaku dengan penuh harapan.  “Boleh bu”, aku hampir tidak percaya dengan apa yang kudengar. Sigap denis meminta izin kepada guru olah raganya.

Aku bersama Denis mulai jalan menyusuri sekolah ini sambil berbincang hangat. Tak sadar denis banyak sekali menceritakan kehidupannya.  Seperti baru saja terkena hipnotis. Aku tertegun dengan salah satu ceritanya di beberapa part, aku melontarkan pertanyaan, “Sudah berapa lama kamu bersikap murung di kelas nak”, tanyaku. “Sudah hampir sebulan ini bu, semenjak orang tua saya berpisah”, tidak  terasa  butiran air mata jatuh membasahi pipinya. “Saya sangat sedih bu dengan apa yang terjadi, kenapa hal itu harus menimpa keluarga saya”, jawabnya sambil mengusap air matanya. “Nak kamu orang pilihan, Allah yakin kamu bisa menghadapi ini semua tidak mungkin Allah memberikan cobaan kepada hambanya kalau tidak yakin ia bisa melewatinya”, jawabku dengan tangan yang bergetar karena dapat merasakan kesedihannya.

“Padahal dulu saya anaknya sangat riang dan heboh sekali bu, teman-teman sempat menginterogasi kenapa saya berubah” sambutnya dengan pengakuan yang mengejutkanku. “Masya Allah begitu perhatian teman-teman Denis, sampai mereka menyadari ada yang berubah dari Denis, untung saja tidak berubah menajadi power rangers pink”, jawabku agar suasana mencair. “Hahah ibu bisa saja”,  respon Denis membuatku tersenyum. Bagaimana tidak, ketawa yang begitu lepas tanpa ada beban.

“Denis kamu harus menyadari bahwa semua orang sangat sayang dan peduli kepadamu, termasuk ibu nak”, ucapku kepada Denis. “Hmm apa iya bu?”, jawab Denis dengan penuh keraguan. “Iya benar Denis, semua orang peduli sama kamu, semua orang sedih kalau kamu murung seperti ini nak, ayolah keluarkan jati diri sebenarnya, Denis yang humble, ceria, heboh”, kataku dengan semangat 45.

“Baik bu saya berusaha untuk kembali dalam keterpurukan yang sudah menguasai diri saya ini”, jawabnya dengan penuh keyakinan. Aku tersenyum bahagia dengan responnya. “Nahh begitu dong Den, janji ya sama ibu kamu tidak boleh murung”, ucapku. “Saya berjanji bu, terima kasih ya bu sudah mendengarkan cerita saya. Saya mau kembali ke lapangan ya bu sudah lama saya tidak berolahraga”, ucapnya dengan semangat. Kulihat dari kejauhan iya berjalan dengan riang membuat hatiku lega.

Aku beranjak menaiki anak tangga untuk melanjuti misi eksporasiku. Tak terasa aku sudah sampai di lantai tiga. Semua kelas berisi penuh dengan orang yang memiliki niat menimba ilmu. Sayup-sayup terdengar suara anak-anak yang melakukan tanya jawab, kini langkahku berhenti di sudut ruangan lantai tiga, sebuah ruangan yang berpintu kaca. Aku memegang gagang pintu kaca yang besar itu untuk mengetahui apa isi ruangan, aku melihat ruangan yang  besar dilengkapi dengan belasan AC dan terdapat sebuahpentas, ya ini adalah Aula serba guna. Aula ini biasanya digunakan untuk acara-acara seperti perpisahan, perayaan muharam, perayaan maulid nabi, pembelajaran secara kelompok besar dan lain-lain. Lagi asik memandang aula aku terkaget dengar suara bel, bel untuk pulang. Sebelum pulang anak wajib untuk melaksanakan shalat ashar berjama’ah.

Dari lantai tiga aku mengamati situasi di bawah. Betapa semangatnya mereka mendengarkan bunyi bel terakhir, tanda bahwa aktifitas di sekolah untuk hari ini sudah selesai. Dengan langkah panjang, bibir yang tersungging senyum serta tas yang sudah dipunggung. Mereka memasuki kamar mandi untuk berwudhu beserta siap-siap untuk melaksanakan shalat  ashar berjamaah. Kegiatan shalat berjamaah dilaksanakan dengan khusyuk. Mik diambil alih oleh guru. Tirai annisa  pemabatas shalat, dibuka agar siswa annisa’ dapat mendengarkan informasi. Guru memberikan arahan, mengucapkan terimakasih untuk hari ini serta mengucapkan hati-hati dijalan untuk kepulangan siswa.

Siswa berbaris rapi untuk bersalaman dengan guru. Ini sangat memukau perhatianku.  Saat anak-anak baru saja sampai di sekolah mereka juga bersalaman dengan guru, saat mereka mau pulang ke rumah, mereka juga bersalaman dengan guru-guru. Wajah mereka saat datang dan pulang sekolah sama-sama tersenyum dan semangat, hanya saja tampilan dan pakaian yang mereka kenakan sedikit berbeda karena sudah tercampur dengan tinta pena ataupun keringat.

Aku turun dan di pintu mesjid sudah disambut dua orang guru yang memantau siswa. Memantau apakah mereka pulang dengan sepatu ataupun sandal. Seharian mereka selalu diperhatikan dan dibimbing oleh para guru.

Parkiran sekolah sudah dipenuhi kendaraan, baik kendaraan roda dua maupun roda empat. Para wali murid sudah menunggu kepulangan anaknya. Dikejauhan aku melihat senyum para wali murid yang menyambut hangat anak-anaknya, senyum penuh kasih sayang dan kerinduan yang sudah dari pagi sampai sore tidak bertemu dengan buah hatinya.

Aku segera bersiap-siap pulang. Tidak ada rasa sedikitpun lelah yang aku rasakan, yang ada hanyalah rasa takjubku terhadap sekolah ini. Baru saja sehari aku di sini aku sudah banyak hal yang bisa aku pelajari, mulai dari kesopanan, ibadah, ketertiban sampai dengan kebersamaan.

Saat langkah kakiku menuju keluar sekolah, aku dihadang oleh  salah satu guru Arrijal.  “Ibu bicara apa dengan Denis tadi? Denis benar-benar berubah yang tadinya tidak mau ikut olahraga, tiba-tiba semangat berolahraga”, tanya guru itu. Ternyata guru tersebut guru olahraga Denis. “Oh iya pak,  tadi saya coba bercerita dengan Denis. Karena tadi saat jam pelajaran  Denis juga murung, Alhamduillah kalau Denis sudah kembali ceria”, kataku dengan senyum dan hati yang penuh kebahagian. “Iya bu karena sejatinya Denis itu anak yang periang namun saya heran tiba-tiba sebulan ini menjadi pemurung, tetapi baiklah kalau begitu bu, terima kasih ya bu”, ucapnya.

Setelah beberapa menit, abangku pun sudah sampai di sekolah untuk menjemputku. Aku tidak sabar menunggu hari esok. Aktifitas mengajar di sekolah adalah hal yang sangat aku tunggu. Tidak sabar untuk bertemu teman sejawat dan tidak sabar bertemu anak-anak. Tak terasa siangpun berganti menjadi malam. Heningnya malam dan suara jangkrik menemaniku untuk mempersiapkan bahan ajar yang akan aku sampaikan di depan kelas esok hari. Jam di dinding kamarku  sudah menunjukkan jam 10 malam,  waktunya untuk beristirahat. Kutarik selimutku diiringi dengan do’a dan rasa syukur untuk kegiatan hari ini. Ketakjubanku tidak habis sampai di sini saja karena masih banyak hal lain yang membuat aku terpesona dengan sekolah ini, ya sekolah SMP IT Al Kautsar, sekolah ini akan kujuluki “Miniatur Surga”. “Terima kasih atas pelajarannya hari ini”

 

 

Cerpen ini dibukukan dalam Selarik Kisah di Tanah Cahaya, sebuah Antologi Kisah Guru JSIT Indonesia