Perjalanan Menuju Wisuda Tahfidz

 

Lantunan Al-Qur’an yang merdu serta indah. Yang berasal dari Masjid lantai dua, tepat di Masjid SMPIT Al-kautsar di Kota Duri riau, terlihat dari jendela masjid penuh dengan anak SMP yang sibuk menghafal Al-Qur’an. Masjid yang penuh dengan siswa itu mendadak hening saat beberapa guru tahfidz datang. Namun, bukannya Naiya senang guru itu datang, malah panik seketika sebab ia lupa menghafal Qur’an kemarin malam untuk disetorkan ke guru pembimbing tahfidz mereka. Naiya dari dulu ingin wisuda tahfidz. Sayangnya, ia selalu lupa untuk menghafal Qur’an dan bermalas-malasan. Terkadang air mata keluar menghampiri pipinya sangking susah untuk menghafal. Nama demi nama guru itu sebutkan untuk menyetorkan hafalan Qur’an itu dihadapannya. Makin panik lah Naiyah.

“Waduuh, gimanaa nihhh!” ujar naiya sambil berusaha menghafal qur’annya.

“Naiya, ayo maju, setorkan sama ustadzah!” cetus ustadzah itu dengan menyipitkan matanya seperti ingin melihat apa yang akan naiya setorkan. Naiya maju dengan tangan yang agak menggigil mulai menyetorkan hafalannya.

“Audzubilahi minasyaitonirojim, bismillahirrohmanirrohim…”, Naiya pun memulai hafalannya dengan hati yang meyakinkannya untuk menyetorkan hafalan. Akhirnya Naiya selesai setoran hafalannya, menghembuskan nafas sangking leganya. Setelah hafalan, Naiya bergegas menuruni tangga demi tangga hinga sampai ke kamar mandi.

“Serius deh, susaah bangett ga sihh menghafal nii” cetus Naiya sembari merapikan hijab nya setelah selesai berwudhu.

“Heem, nggak naaiyaa, mudah kok pakai banget malah” kata teman dekatnya Naiya yang sedikit bandel tapi pintar yaa namanya Tara. Mereka mengobrol seraya merapikan hijabnya ditoilet masjid,

“Ayo Naii kita ke kantin, kan dah sholaatt!” ucap Tara sambil melipat mukenahnya.

“Gaass Taraa” kata Naiya sambil bercermin dengan cermin pink andalannya itu.

Tak lama, sudah menandakan waktu pulang “ting,ting,ting”, sontak Naiya dan gengnya itu, bergegas lari ke masjid untuk booking shaf paling depan. Tak terasa sudah selesai sholat ashar di masjid SMPIT, dengan kaki yang panjang Naiya dan gengnya itu melangkah cepat ke arah pintu keluar sekolah.

Malamnya, Naiya di kamarnya yang penuh dengan barang-barang pinknya,  Dengan angin malam yang dingin masuk dari jendela kamar Naiya. “Pokoknya akuu harus bisa menghafal dan nyetorin dengan tenaang deehh!” cetus Naiya, ayat demi ayat dihafalkannya, beberapa jam terus berlalu, tapi Naiya masih saja menghafal ayat itu berulang kali, air mata yang tak kunjung mengalir itu pun memaksakan untuk tetap berusaha menghafal dan memahami.

“Hiks,hiks,hiks, kenapa sih susah kali, ayo dong masuk ke otaak, akuu cape menghafal susah kali, aku kan juga ingin wisuda seperti anak-anak lainnya” ujar Naiya dengan air mata sudah menyentuh pipi, serta merasa tak ada harapan lagi, sebab sebentar lagi akan diadakan pengetesan untuk anak yang sudah menghafal 1 juz atau lebih. Sedangkan saat itu Naiya masih berusaha menghafal.

Disaat Naiya menangis tersedu-sedu entah angin apa yang merasukinya, secara mendadak Naiya mengantuk dan tertidur dengan lelap, sangking lelapnya, Naiya tak tau lagi sudah berapa kali alarm hpnya berbunyi dan beberapa kali alarm itu dimatikan dengan mata tertutup. Hingga saat cahaya matahari masuk, Naiya sontak terbangun dan melihat hpnya. Mata dengan kantung mata yang tebal itu berusaha melihat angka jam di hp nya, lama kelamaan matanya sinkron jam menunjukan pukul 06.30!, “Hahh dah jam segini!” ucap Naiya yang langsung bergegas sholat, mandi, dan aktivitas keseharian lainnya..

Dan yaa seperti dugaan nya ia sedikit terlambat, untung saja Naiya tak dihukum. Jam pelajaran terus berganti hingga tibanya jam untuk mempelajari, memahami, dan menghafal Al-Qur’an. Seperti biasa Naiya dan siswa lainnya akan menyetorkan hafalan Al-Qur’annya. pada akhirnya Nama Naiya dipanggil, tiba-tiba saja jantungnya berdebar, pikirannya langsung berprasangka buruk dengan dirinya sendiri. Langkah demi langkah Naiya berjalan kearah guru Tahfidznya.

“Kenapa Naiya?, takut ga lancar ya hafalannya?” ucap guru itu sambil tertawa kecil…

“Ahahahah, iyya ustadzah” ucap naiya dengan tertawa kecil menampakkan gingsulnya walau sebenarnya Naiya masih khawatir.

Selesainya Naiya menyetorkan hafalannya, betapa kegirangannya si Naiya menunjukan ke teman-temannya  bahwa ia dapat menyetorkan tiga ayat Al-qur’an dengan lancar, walau itu hanyalah hal kecil dan sederhana tetapi Naiya sangat sangat senang seperti mendapatkan harta karun.

Sesampainya dirumah, jam dinding menunjukan pukul 16.30!, yaitu saat Naiya baru pulang dari sekolah, secara mendadak Naiya kepikiran untuk keberapa kalinya. “Kira-kira aku bisa ga ya wisuda di kelas 7 ini, aku bisa ga ya gapai banyak prestasi” itu adalah hal yang selalu berputar-putar di pikiran Naiya, Naiya selalu saja menangisi nilai pelajaran harian rendahnya, apalagi hafalan Al-Qur’annya, ia ingin semua itu sempurna. Tetapi usahanya hasilnya susah untuk sesuai dengan usaha yang dilakukannya itu. Naiya selalu khawatir jika nilai itu mempengaruhi impiannya. Dibalik sikap naiya yang kegirangan ketika sesuatu sesuai dengan hasilnya, ada usaha yang Naiya lakukan

Waktu demi waktu berjalan, tidak terasa sudah hari ahad waktunya beristirahat, hari yang diisi dengan hujan, rintik-rintik hujan membasahi genteng, tumbuhan tampak segar, tanah lembab, saat itu adalah waktu yang tepat untuk orang-orang tidur, makan serta nonton. Tapi, Naiya malah menggunakan waktu itu untuk belajar,menghafal, memahami Al-Qur’an ataupun pelajaran umum sekolahnya. Berharap nilainya naik dan juga hafalannya menjadi baik serta lancar. Beberapa jam berlalu dan waktu terus berjalan, jam dinding menunjukan pukul 20.30 WIB, waktunya Naiya untuk tidur. Keesokan harinya, ayam berkokok, langit masih tampak gelap, Naiya pas terbangun saat alarmnya baru berbunyi “krriiingg…krringg” alarmnya berbunyi sangat keras. Seperti hari-hari lainnya naiya berangkat sekolah dan belajar disana hingga memasuki jam tahfidz dan tahsin untuk keberapa kalinya.

Kali ini berbeda, saat Naiya sampai ke masjid SMPIT lantai dua, tak ada satupun guru tahfidz terlihat. Naiya dan temannya kebingungan, “ Naii, kok tumben ya ga ada guru?” kata temen Naiya.

“Hemm, gaa taauu nih, mending kita nunggu aja!” cetus Naiya dengan mimik wajah sedikit panik. Beberapa menit berlalu, semua siswa sudah berada di masjid untuk menyetorkan hafalan ke masing-masing guru tahfidznya.

Sedangkan guru itu baru datang dengan ekspresi serius. Setelah selesai menyetorkan hafalan, tiba-tiba guru itu meminta anak-anak SMP itu untuk mendengarkannya.

“Halo anak-anak ustadzah, ustadzah cuma mau ngomoong kalauu dua minggu lagi akan dibukanya pengetesan untuk wisuda tahfidz” anak- anak SMP itu langsung heboh seheboh-hebohnya, saling ngobrol dengan temannya terutama si Naiya yang memiliki perasaan campur aduk, antara senang atau khawatir. Karena ia takut tak dapat mengikuti wisuda itu. Pulang sekolah, setelah mendengar apa yang dikatakan guru tadi. sampai pulang pun, ucapan guru itu terus terngiang-ngiang di kepala Naiya dan ia memutuskan untuk fokus dengan hafalannya untuk dua minggu kedepan.

Hari demi hari terus berlalu dengan cepat, hari yang sangat dinantikan oleh Naiya akhirnya datang jua. Saat itu Naiya sudah selesai menyetorkan juz tiga puluhnya secara lengkap. Anehnya, ia belum didaftarkan oleh gurunya sama sekali. Hingga waktu pendaftaran anak kelas tujuh sudah tutup. Naiya pun menangis, tapi ia tak menyerah dan terus menagih bahwa ia layak mengikuti wisuda itu.

Akhirnya hal yang Naiya impikan terwujud. Walauu, Naiya terlambat mengikuti pengetesan itu dan terpaksa melakukan pengetasan tahfidz dengan kakak-kakak kelas sembilan. Padahal sahabatnya Tara itu juga ikut pengetesan tapi lebih cepat darinya tak tau mengapa. Dan saat mulainya pengetesan, tangan Naiya basah dengan keringat tubuhnya menggigil seperti akan demam tinggi. Tapi, yaa Naiya lulus tes itu “Wuhuyy akhirnyaaa!!” cetus Naiya yang mempamerkan kepada teman temannya dengan berlagaknya. Akan tetapii, saat teman Naiya hendak memegang tangan Naiya sebagai ucapan selamat dan terus semangat untuk Naiya, ehh tangan Naiya malah berkeringat parah sangking teringatnya betapa gugup ia tadi saat pengetesan.

“Ahahahaa, itu tangan mu basah banget Naii kaya habiis disirem airr” ucap temen temen segengnya Naiya, yaitu Tara, Keira, dan Alan.

“Cihh, besti lo itu lagi seneng tauukk, bukannya disemangatin malah diejek ihh!” cetus Naiya dengan memutar bola matanya kekanan maupun kekiri dengan menahan tawanya.

“AHAHAH, udaah cukuup Naiyaa, perutku sampe sakit ketawa terus nih lihat perangaimu yang se terlalu semangat ituu” ucap Alan dan disambung ketawa bahagia mereka bersama.

Esok harinya, di hari pada saat langit berwarna kegelapan dimana sedang musim hujan yang meradang di Kota Duri ini dengan dahsyatnya setiap detik, menit,  tak heran jika mendadak titik titik hujan turun ke kota duri tepatnya membasahi SMPIT di Kota Duri itu. Disaat Naiya yang masih damai tertidur sambil memeluk gulingnya dan selimutnya yang sangat erat ia pegang, hp dengan ngegasnya mulai menderingkan alarm yang sangat menyebalkan itu, bukan suara yang kecil mungil, melain suara yang dapat diibaratkan sebesar suara saat kita berbicara menggunakan toa yang besar. “BIPP,BIIPP,BIIPP” suara dari alarm itu mengganggu tidur nyenyak nya Naiya, eh tapi Naiya baru teringat bahwa hari ini masih sekolah. Bergegaslah  Naiya bersiap siap bagai secepat kedipan mata.

Sesampainya disekolah, menunjukan pukul 07.16, tumbennya suara mikrofon bergema di sekolah itu menyampaikan informasi, padahal sebelum saat itu Naiya sedang berkaca dan malah salah fokus dengan aula sekolahnya yang berada di lantai tiga. “Ehh, kok tiba tiba aula sekolah kita lampunya hidup ya Nai?, padahal ga ada acara” cetus Tara dengan keponya melirik lirik ke arah aula sambil berkaca kaca di kamar mandi dekat Aula.

“Ihh gataau deeh Keii, aku juga bingung” cetus Naiya sembari merapikan hijab putihnya itu.

Ternyata setelah itu, ada pengumuman lewat mikrofon sekolah, menyampaikan bahwa anak yang mengikuti wisuda akan berkumpul di aula untuk muraja’ah dan latihan di aula yang dingin dan luas itu. Yaa secara ga langsung, Naiya dan Tara bolos saat jam pelajaran hingga ba’da dzuhur lalu belajar seperti biasa hingga ba’da ashar.

Awalnya sih Naiya dan Tara senang sebab tak perlu mengikuti pelajaran, sehari, dua hari, tiga hari, akhirnya Naiya dan Tara agak bosan sebab  mereka harus terus menerus latihan di aula sekolah, tapi terkadang mereka juga senang karena akhirnya mereka wisuda setelah menjadi menjadi anak kelas tujuh selama sekitar lima bulan dan sudah bisa wisuda juz 30. Dengan serius Naiya dan Tara latihan bersama, walau terkadang sedikit bercandaan membuat mereka tak sengaja tertawa lepas dan akhirnya malu. Hingga pada waktunya muraja’ah bagi yang wisuda yaitu sudah memasuki hari yang ketiga, Naiya dan Tara muraja’ah dengan teman lainnya yaitu bergantian untuk menyambung ayat hingga akhir surah, tetapi pada saat gilirannya Naiya tiba tiba saja Naiya lupa, saat itu Naiya ngeblank dan akhirnya dibantu guru yang membina mereka.

Akan tetapi entah mengapa Tara ikutan gugup dan ngeblank, dengan kompak mereka saling menatap wajah satu sama lain dan secara tak sengaja tawa itu pun terlepas dan menjadi perhatian beberapa temannya. Karena merasa malu Naiya dan Tara memiliki pipi yang sedikit merah sangking malunya. Entah kenapa waktu berlalu dengan cepat, saat itu jam di kamar Naiya sudah menunjukan pukul 21.15!, dan sudah waktunya untuk tidur, tapi tiba tiba sahaja sejak tadi pagi Naiya demam tinggi, batuk, pilek dan terpaksa Naiya datang telat untuk besok. “Uhuk,uhuk, aku bisa ga ya ikut acara uji petik dan wisuda tahfidz untuk besok?” hal itu yang diucapkan oleh Naiya dalam hati dan terus terngiang ngiang dikepalanya.

Setelah beberapa minggu muraja’ah dan latihan, akhirnya hari yang ditunggu tunggu tiba juga. Walau Naiya dalam keadaan sakit dan terpaksa terlambat untuk meminum obat serta menghindari terjadinya pingsan atau panas badan yang makin tinggi. Jadi pada saat Naiya datang acara sudah dimulai dan anak-anak tahfidz duduk berdua satu kursi panjang, Naiya hanya duduk sendiri dan paling belakang saat uji petik. Tapi walau sakit, tak menjadi penghalang Naiya untuk tampil. Naiya tetap berusaha ceria dan riang gembira. Pada saat waktunya pemberian mahkota kepada orang tua, betapa terharunya ibu Naiya dan semua ibu ibu lainnya yang melihat anak anaknya berhasil menghafal sebagian atau sedikit dari al-qur’an, dan sesusah itu Naiya berusaha menahan air matanya tapi pada akhirnya air mata itu sedikit pecah dan berkaca-kaca.

Dan juga setelah pemberian mahkota dilanjutkan dengan lagu yang berkaitan dengan hafidz dan al-qur’an dengan haru juga dengan suasana yang mendung seperti akan turunnya hujan yang akan deras dari mata. Tak terasa sudah selesai pembagian piagam dan sertifikat wisuda serta acara yang sudah diakhiri dengan salam. Naiya memeluk orang tuanya dengan haru, setelah itu Naiya pun berfoto foto dan bercerita bersama temannya dengan riang dan gembira. Betapa senangnya dan spesialnya hari itu bagi Naiya.

Yaa ini adalah hasil dari ketekunan menghafal, dan ketekunan mengahafal mengajarkan kita bahwa kemampuan menghafal bukan diukur dari kecerdasan, melainkan seberapa besar tekad seseorang untuk terus berusaha dan tidak menyerah. Dan ini juga salah satu contoh untuk kita bahwa suatu hal tidak tergantung kepintaran tetapi tentang niat dan usaha yang kita impikan.

 

 

Cerpen ini dibukukan dalam Antologi Kisah Pelajar JSIT Indonesia : Bangku Kayu Pemayang Cahaya