Ibu, Kue, dan Ulang Tahunku

 

Rabu, 24 Juli 2024.

Adalah tanggal yang kulihat pertama kali ketika aku terbangun dan meraih gawaiku, diiringi dengan dering notifikasi pesan terbaru dari beberapa teman-temanku. Segera aku memasukkan kata sandi dengan kelopak mata yang rasanya masih terlalu berat lalu membuka kunci layarnya agar bisa membacanya dengan lebih lengkap.

“Selamat ulang tahun, Hani!” Pesan pertama.

Happy birthday, Haniii.” Pesan kedua.

“Haii Hani temanku selamat ulang tahun yaa.” Pesan ketiga, dan pesan-pesan lain seterusnya.

Senyuman seketika terukir di wajahku sambil terus menggulir layar dan membaca semua pesan dari teman-teman. Ada yang membuat tulisan beberapa paragraf untukku, ada yang mengedit fotoku menjadi tema ulang tahun, dan bahkan ada yang mengucapkan tepat pada jam dua belas malam. Wah, dia rela tetap terjaga melawan rasa kantuknya demi bisa mengirimkan satu kalimat ucapan ulang tahun kepadaku? Patut dihargai usaha keras sahabatku itu, Keysha dan Aumi.

Ingin sekali rasanya aku membalas pesan mereka satu-persatu, tetapi jarum jam di dinding berkata lain. Tiga puluh menit lagi menuju jam enam pagi, aku harus segera menyiapkan segala keperluan untuk sekolah nanti. Aku pun segera meletakkan gawaiku dan menepikan selimut lalu beranjak dari kasur menuju kamar mandi untuk menggosok gigi, mencuci muka, dan mengambil wudhu.

Sepuluh menit kemudian, aku menginjakkan kaki keluar dari kamar mandi. Mukena terpasang dan sejadah terbentang ke arah kiblat. Sekarang, hati dan pikiran harus tertuju pada yang satu.

Dua kalimat salam menjadi akhir dari salat subuh fajar ini. Tak lupa tanganku mengadah untuk berdoa kepada-Nya. Setelah selesai, aku bangkit dan segera melipat alat salatku. Aku kembali menelisik jam di dinding, sebentar lagi menuju jam enam.

Aku harus segera sarapan saat tepat pukul enam agar tidak terlambat pergi sekolah. Aku sudah memperkirakan menit berapa dan berapa menit aku harus melakukan sesuatu, supaya tiba di sekolah kurang lebih pada pukul tujuh pagi sebelum bel berbunyi. Segera kubuka pintu kamar dan berjalan menuju dapur.

Seperti biasa, Ibuku di dapur sedang menggeluti perkakas masaknya.  Setelah mendengar suara langkah kaki yang menuju dapur, kepalanya langsung menoleh ke arah sumber suara. Tetapi Ibuku tak menghentikan kegiatan yang sedang ia lakukan, masih terus lanjut memasak.

“Eh, Hani, sudah bangun. Selamat ulang tahun, Mbak Hani.” Ucap Ibuku sambil tersenyum ke arahku, namun masih fokus memasak. Aku hanya tersenyum ceria. Tiba-tiba, Ayah yang sedang menyetrika pakaian di ruang depan juga menyusul menghampiriku di dapur lalu memelukku dari belakang.

“Selamat ulang tahun anak Ayah sayang.” Ayahku turut mengucapkan. Aku hanya cengar-cengir dan pura-pura kesal minta melepaskan lengannya yang memelukku itu. Lanjut aku menuangkan susu ke dalam gelas dan mengambil satu roti isi cokelat untuk kusantap di meja kamar sambil memilih buku mata pelajaran hari ini untuk menghemat waktu yang sudah kuperkirakan setiap hari itu. Aku pun kembali menuju kamar.

Aku menyantap roti sambil memilah buku yang akan kubawa hari ini, buku pelajaran di hari rabu memang lebih banyak dibandingkan dengan hari lain. Kugigit kembali rotinya sembari sibuk mengotak-atik tas sekolahku. Tak lupa susunya juga kuminum agar cepat habis bersama rotinya sehingga bisa menghemat waktu lebih, meski itu hanya beberapa menit, tetap berharga bagiku.

Zziiippp!

 Kutarik ritsleting tas hingga kembali tertutup, mataku mengarah lagi ke jarum jam dinding. Masih pukul enam lewat sepuluh menit, yang artinya aku masih punya lima puluh menit lagi sebelum jam tujuh, yang akan aku gunakan untuk mandi dan bersiap-siap.

Kubuka pintu kamar untuk mengambil handuk yang tersemat di depan pintu. Tapi alih-alih pergi ke kamar mandi, aku justru terduduk sejenak di tepi kasur dan meraih gawai yang tergeletak. Kuketik sandinya dan mengetuk obrolan grup kelas, ada lima belas pesan baru yang dikirim enam menit lalu. Aku menggulir layar ke atas untuk membaca pesan dari yang paling awal.

Guys, hari ini kita ulangan bahasa Indonesia, kan?”

“HAH?? MASA IYAA SIH, SAR?”

“Iya tauu, bukannya ada ya Bu Ela bilang pas belajar bahasa minggu kemaren?” Kugulir ke bawah sedikit lagi, info dari Sarah yang baru disampaikannya jam enam pagi ini mendatangkan respon heran dan cengang dari teman-teman lain, termasuk  dariku. Aku berusaha mengingat-ingat apa yang Bu Ela sampaikan saat pelajaran bahasa Indonesia minggu kemarin, dan benar nyatanya, Bu Ela ada mengatakan bahwa kami akan ulangan karena materinya sudah selesai dipelajari. Ya ampun, bisa-bisanya aku melupakan hal sepenting itu dan baru tahunya sekarang, pagi di mana aku belum berangkat ke sekolah. Terpaksa aku harus belajar sekarang juga meski aku tahu bahwa tidak akan bisa maksimal. Lekas aku bangkit dari duduk dan membuka kembali tas yang telah dipersiapkan untuk dibawa ke sekolah. Kuambil buku catatan khusus pelajaran bahasa dan mulai membolak-balikkan halaman sambil membaca-baca tulisannya juga. Aku berusaha  menghafal materinya dengan sesingkat mungkin, mengingat bahwa aku harus segera bersiap ke sekolah juga.

“Ah, apa ya tadi pengertiannya?” Ucapku sambil mengintip sedikit dari catatan. Aku menghafal dengan gegabah. Saat aku mengecek jam dinding, sudah pukul enam lewat tiga puluh. Sontak aku melepaskan buku itu dari tanganku lalu berlari ke kamar mandi. Tiga puluh menit lagi jam tujuh, sementara aku masih memakai piyama tadi malam.

Lima menit saja aku langsung keluar dari kamar mandi, segera aku memakai rok dongker dan mengancingkan seragam batik JSIT sekolah.

Tok, tok, tok… Ayah mengetuk pintu kamarku. “Mbak, sudah siap belum?” Tanya ayah dari balik pintu. Aku semakin cepat memakai seragamku.

“Iya, Yah. Sebentar lagi!” Sautku.

Ayah pun berjalan pergi dari pintu kamar. Segera kupasang jilbab dengan rapi di depan cermin meski terburu-buru dan memastikan tidak ada satu helai rambut pun yang terlihat.

Setelah selesai dan siap berangkat, aku membuka pintunya dan pergi ke ruang depan untuk memasang kaus kaki dan sepatu. Ayah sudah menunggu ku di atas sepeda motornya. Aku duduk di lantai untuk memasang kaus kaki yang karena tergesa-gesa malah jadi terbalik kanan dengan kiri.

Ibuku tiba-tiba datang dengan raut wajah yang letih namun masih bahagia, aku masih sibuk menggerutu karena kaus kakiku yang terbalik membuang-buang waktu. “Mbak, foto dulu dong di sana sama kue ulang tahunnya. Mumpung Mbak lagi rapi begini nih.” Ujar Ibu sambil tersenyum ke arahku dengan gawai di tangannya yang siap memotret diriku dengan kue ulang tahun itu.

Aku langsung mengernyit dan memajukan bibir. “Bunda, ih! Mbak kan mau sekolah, nanti telat tau!” Seruku dengan kesal dan nada tinggi. Aku sudah terburu-buru, tapi Ibu malah sempat-sempatnya menyuruh untuk berfoto.

Tapi Ibu masih menjawab dengan lembut, “Sebentar saja, Mbak. Itu udah Bunda siapkan cantik-cantik, lho.” Ibuku mengusap keringat dari wajahnya.

“Bunda ihh!” Aku sibuk menggerutu. Aku bangkit dengan kasar, dengan wajah masih mengernyit pergi menuju ruang tamu. Kulihat kue ulang tahun berwarna biru sudah terpajang dengan cantik beserta hiasan-hiasan menggemaskan lain. Namun bukannya aku senang melihat semua itu, aku malah tetap ingin segera pergi ke sekolah.

Aku duduk di sofa dengan kue di depanku. Ibu menaruh kue yang berada di atas meja ke atas tanganku, lalu mundur beberapa langkah menyesuaikan posisiku di kameranya. Aku tersenyum meski masih kesal untuk difoto.

“Senyum dong, kayak gini tangannya, kepalanya yang bagus.” Ibu mengarahkanku untuk dipotret sambil wajahnya tersenyum senang melihatku dengan kue ulang tahun itu. Sesekali menekan tombol potret.

“Udah ah, Bun! Mbak mau pergi sekolah!” Aku tak sabaran menunggu Ibuku mengambil foto. Aku letakkan kembali kue itu di atas meja dan pergi ke depan pintu, kuraih tas sekolahku dan dengan segera menaiki motor duduk di belakang Ayahku.

Ibu juga bergegas menuju pintu rumah untuk melambai kepadaku saat Ayah mulai menjalankan motornya mengantarku ke sekolah. Tapi aku tak sekali pun menoleh ke belakang ataupun melambai balik. Alis dan dahiku masih mengernyit, mengingat betapa kesal dan terburunya aku.

Saat pukul sepuluh lewat empat puluh menit setelah istirahat, tiba waktunya jam pelajaran Bu Ela, di mana kami akan melaksanakan ulangan yang kupelajari kurang lebih baru dua puluh menit tadi pagi sebelum ke sekolah. Bu Ela menjarakkan kursi kami semua dan membagikan kertas soal ulangan. Aku hanya menatap soal di hadapanku ini dengan harapan tiba-tiba jawabannya akan muncul sendiri dengan ada efek suara Ting! di kepalaku. Merasa tak ada petunjuk lagi, aku pun hanya melipat tanganku di atas meja untuk bertopang dan meletakkan kepalaku di atasnya, menunduk. Pikiranku masih kembali mengulang kejadian tadi pagi sebelum sekolah itu.

Terputar raut wajah Ibuku yang letih, bagaimana ia mengusap peluh keringat dari wajahnya itu. Bagaimana senyum bahagianya melihatku saat ia memotret gambar yang baginya seperti kenangan yang berharga. Sesederhana itu, hanya aku yang tersenyum memegang kue ulang tahun untuk difoto, namun dia bahagia melihat momen itu. Bagaimana ia melambai kepadaku sebelum ku diantar ke sekolah. Bisa-bisanya, bisa-bisanya tak kutolehkan kepalaku sekali saja. Terlalu beratkah tanganku untuk aku melambai balik padanya? Padahal, tak dapat dipastikan aku bisa melihatnya lagi atau tidak setelah kendaraan itu berjalan. Bagaimana jika itu lambaian selamat tinggal terakhir yang kudapatkan jika apa-apa terjadi di jalan? Tapi aku malah bersikap seperti itu pada Ibuku.

Tak terasa air mata jatuh di pipiku. Buru-buru aku mengelapnya sebelum nanti jatuh lebih banyak. Kulihat ke sekeliling, teman-temanku masih fokus dengan kertas mereka masing-masing. Alhasil aku memutuskan untuk menjawab apa saja yang bisa kuingat dan masih ada dalam kepalaku. Yang penting ada yang kutulis di kertas.

Teng.. teng.. teng..!

Bel sekolah berbunyi tepat saat pukul empat sore, menandakan sudah waktunya siswa dan siswi pulang ke rumah. Setelah salat asar, murid-murid keluar dari masjid menuju ke tempat jemputan mereka. Terlihat Ayahku menunggu di bawah pohon dengan seragam kerjanya, duduk di atas motor. Aku pun segera pergi menuju tempat Ayah menunggu.

Ayah merangkul dan mencium pipiku lalu meraih tas bekal untuk dipegang untuk di motor nanti. Aku naik ke atas kendaraan duduk di belakang Ayah. Motor pun mulai berjalan pulang ke rumah.

“Mbak, nanti nggak usah pergi les aja, ya.” Kata ayahku yang disertai dengan deru angin di atas motor.

“Loh, kenapa, Yah?” Aku bertanya alasan dengan heran.

“Iya, kan Mbak ulang tahun hari ini. Nanti kita potong kue sama Bunda sama adek.” Ayah menjelaskan. Aku tersenyum hangat, “Oke, Ayah.” Tanganku melingkar  dari belakang untuk memeluk Ayahku.

“Mbak mau kado apa?”

“Apa aja, Mbak seneng kok!”

Kami berdua tertawa dalam perjalanan pulang ke rumah. Ayah yang bekerja di kantor dan aku yang menjadi murid di sekolah. Malamnya, setelah salat magrib kami berkumpul di ruang keluarga untuk membuka kado dari teman-temanku dan memotong kue ulang tahunku yang berhiaskan, “Barakallah Fii Umrik Mbak Hani, yang Ke-13.”

 

 

Cerpen ini dibukukan dalam Antologi Kisah Pelajar JSIT Indonesia : Bangku Kayu Pemayang Cahaya