
Prestasi membanggakan kembali diraih oleh murid SMP IT Al-Kautsar dalam ajang bergengsi bidang seni dan sastra tingkat nasional.
Salah satu murid terbaik, Apta Naia Naisya Tanjung dari kelas VIII Aminah, berhasil meraih Juara 2 cabang Menulis Cerita pada ajang FLS3N (Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional) Tahun 2026.
Keberhasilan ini menjadi kebanggaan besar bagi keluarga besar SMP IT Al-Kautsar sekaligus menjadi bukti bahwa kemampuan literasi, kreativitas, dan imajinasi murid terus berkembang melalui pembinaan yang baik dan dukungan penuh dari sekolah.
FLS3N merupakan singkatan dari Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional. Ajang ini adalah kompetisi nasional di bidang seni dan sastra bagi peserta didik Indonesia mulai dari jenjang SD, SMP, hingga SMA/sederajat. FLS3N diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sebagai wadah pengembangan bakat dan kreativitas murid di bidang seni budaya dan sastra.
FLS3N bertujuan untuk mengembangkan potensi, kreativitas, dan bakat murid di bidang seni dan sastra, menumbuhkan karakter positif seperti percaya diri, disiplin, sportivitas, dan apresiasi budaya, menjadi wadah pembinaan talenta seni budaya secara berkelanjutan, serta menumbuhkan kecintaan terhadap budaya bangsa Indonesia. Ajang ini menjadi salah satu kompetisi bergengsi nasional bagi pelajar yang memiliki minat dan bakat di bidang seni dan sastra.
Pada tahun 2026, FLS3N mengangkat tema: “Menumbuhkan Karakter Bangsa melalui Kreativitas dan Apresiasi Seni Budaya.” Tema tersebut menjadi semangat utama bagi para peserta untuk menghadirkan karya yang tidak hanya indah secara bahasa, tetapi juga memiliki pesan moral dan nilai budaya yang kuat.
Pelaksanaan lomba cabang Menulis Cerita dilaksanakan pada hari Selasa, 5 Mei 2026. Pada saat lomba berlangsung, seluruh peserta membawa laptop masing-masing dan mengikuti kompetisi sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan panitia. Peserta diberikan tema cerita serta batas waktu penulisan tertentu untuk menyelesaikan karya terbaik mereka secara langsung di lokasi lomba.
Suasana lomba berlangsung dengan penuh keseriusan dan konsentrasi. Ruangan tampak tenang saat para peserta mulai menuangkan ide dan imajinasi mereka ke dalam tulisan. Bunyi ketikan keyboard terdengar bersahutan memenuhi ruangan, menandakan setiap peserta sedang berusaha menghasilkan karya terbaiknya. Apta terlihat fokus dan tenang selama proses perlombaan. Ia beberapa kali membaca ulang kalimat-kalimat yang telah ditulis agar alur cerita, pemilihan diksi, dan pesan yang ingin disampaikan benar-benar tersusun dengan baik.
Sebelum mengikuti lomba, Apta menjalani proses latihan dan pembinaan secara intens bersama guru pembimbingnya, Ibu Chindy Nurfadillah, S.Pd, Gr guru Bahasa Indonesia SMP IT Al-Kautsar. Dalam proses latihan tersebut, Apta dibimbing untuk memperkuat kemampuan menyusun alur cerita, membangun suasana, memperdalam karakter tokoh, serta memilih bahasa yang menarik dan menyentuh pembaca.
Tidak hanya berlatih menulis, Apta juga rutin membaca berbagai karya sastra untuk memperluas wawasan dan memperkaya gaya penulisannya. Ia belajar memahami bagaimana sebuah cerita mampu menyampaikan emosi, kritik sosial, dan nilai kehidupan melalui rangkaian kata-kata yang sederhana namun bermakna.
Kesungguhan dan kerja keras selama proses latihan akhirnya membuahkan hasil membanggakan dengan diraihnya Juara 2.
Karya cerita yang ditulis oleh Apta berjudul:
“Aku yang Terseret Ombak Peradaban”
Tok… tok… tok…
Irama itu teratur, tenang, seolah ia sudah hafal jalannya. Ujung sepatu menyentuh lantai dengan hati-hati ,nyaris seperti tak ingin mengganggu kesunyian yang menggantung di udara.
Tok…
Langkah itu berhenti. Ia berdiri di depan sebuah rak tua. Jemarinya terangkat perlahan,menyusuri punggung-punggung buku yang berdebu. Setiap sentuhan terasa seperti membuka rahasia yang lama terkunci.
Ia meniti ujung jari kakinya,memaksakan jemari untuk mencuri sebuah buku dari pelukan debu di rak paling atas.
Deg… deg… deg…
Sontak, seluruh organ di tubuhku bergemuruh.
Krek…
Sampul itu terbaring dengan cahaya lampu menerpa.
Wush!
Sampul buku itu meyingkap jutaan debu yang menari dan beterbangan.
Matanya meneliti sekilas, membaca baris demi baris. Namun, tak sampai 5 detik, BAM! Buku itu ditutup kembali dengan raut wajah kosong dan datar.
Rasanya… perih yang luar biasa.
Huruf-huruf ditubuhku seolah ikut menunduk sedih. Harapanku hancur begitu cepat.
Aku kembali dipeluk kesunyian, terbenam dalam peti bisu yang terkunci rapat. Kali ini, beku yang menjalar jauh lebih menggigit dari masa lalu. Ya, aku adalah syair yang nyaris ditelan teknologi.
Dulu, aku benar-benar hidup.
Suaraku menggema di balairung kerajaan. Tangan-tangan halus mendekap lembarku dengan penuh takzim, bibir yang merdu melantunkanku dalam irama memukau. Aku yakin, siapapun yang mendengarnya akan merinding terhanyut dalam haru.
Tapi sekarang? aku harus menerima kenyataan pahit. Bumi berputar terlalu cepat, Sekarang aku hanyalah tinta diatas kertas yang sudah menguning, tertumpuk debu-debu pelupaan.
Di luar sana, dunia sungguh berisik. Suara musik beat berdentung keras,beribu layar mengikuti jempol yang menari cepat. Orang-orang begitu sibuk dengan kehidupannya hingga lupa mengarahkan pandangannya kebelakang.
Ya… jelas, kearahku.
“Ah, syair apaansih? Kuno banget” atau “ Boring banget bacanya” itu kata-kata yang sering berdatangan ke telingaku.
Sakitnya kata-kata itu bagaikan pisau yang menyayat hatiku, tapi apalah daya? Aku hanya bisa menunggu, terdiam sejenak, dan berharap ada yang tertarik membuka lembaranku, membaca tiap baitku, meski hanya sekejap mata.
Hari demi hari kulalui dengan harapan yang semakin menipis, menyusut seperti es di terik matahari.
Kadang pintu perpustakaan terbuka, langkah-langkah kaki terdengar,dan “Deg… deg…” hatiku selalu berdebar setiap kali mereka melewatiku. Aku berharap ada yang mencariku.
Namun, harapan itu seringkali membuatku hancur hingga kerkeping-keping. Mereka datang, melihat judul “kumpulan syair”, lalu mereka menggeleng dengan raut wajah datar, seolah waktu berhenti berputar baginya.
“Ah,ini mah pelajaran sekolah doang. Boring,” kata seorang siswa dengan sinis. Ekspresinya mati bagaikan bunga tak disiram, jelas sekali ia tak tertarik.
“Bahasanya susah dimengerti, kuno banget sih,” timpal temannya. Suara itu menyusup pelan namun terasa menyambar digendang telingaku. Perih sekali rasanya,harapanku sirna oleh ucapan itu.
DAR!!
Buku itu terhempas rapat sekuat tenaga. Ia melemparku kembali ke rak seenaknya, lalu berlari pergi.
Mereka tak tahu bahwa dibalik setiap kalimatku, tersimpan makna mendalam tentang kehidupan dan budaya. Mereka tak mau tahu. Bagi mereka, aku hanyalah sampah masa lalu.
Aku berusaha berteriak, mencoba memanggil mereka lewat tulisanku.
“ Wahai generasi penerus bangsa, jangan biarkan budaya hampa. Ingatlah warisan para leluhur, agar kita tak jadi orang asing di negeri sendiri”
Tapi, suaraku tak pernah sampai. Mereka bahkan tak bisa mendengarnya, seperti hilang terbawa angin.
Aku terus memudar layaknya kabut. Cahaya yang ada dalam diriku semakin redup. Rasanya aku ingin menyerah dan menghilang selamanya.
Langit dikota seakan runtuh, membawa gumpalan awan abu-abu yang menutupi sisa-sisa sinar matahari sore itu. Biasanya ada bisik- bisik samar, tapi hari ini, perpustakaan itu membeku dalam senyap yang ganjil.
Tek… tek… tek…
Tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki, langkah itu pelan, tenang, seolah menghormati keheningan.
Lagi dan lagi ada seseorang yang berhenti tepat didepan rak ku berada.
Tangannya yang halus, meraba dengan pelan rak seperti akan mencari sesuatu. Saat tangannya sampai ke sampulku, ia memberhentikan tangannya untuk menyusuri rak. Seolah-olah sesuatu yang ia cari telah ia temukan.
Deg… deg… deg…
Jantungku kembali berdegup kencang umpama drum yang dipukul bertubi-tubi.
“Tolong baca aku,please…”
Pintaku dalam hati terdalam, aku hanya bisa berharap gadis itu menarikku dari rak yang suram umpama hidupkku saat ini.
Srek…
Tanpa aba-aba gadis itu menarik ku dari gelapnya rak perpustakaan. Wush! Debu itu berterbangan saat gadis itu mulai membuka lembaranku. Aku sudah mengira ia akan menutupku dalam lima detik, “satu… dua… tiga… empat… LIMA” Ucapku dalam hati yang menduga gadis itu akan menutup rapat diriku.
Betapa terkejut nya diriku, ternyata ia masih memegang erat diriku sambil membacaku dengan merdu, bahkan ia membawaku kemanapun ia berada, bagaikan dua magnet yang saling berdekatan.
Wah! Ini seperti mukjizat yang datang menghampiriku, semua mata perlahan tertuju kepadaku, sentuhan demi sentuhan menyelimuti punggungku, hangat sekali rasanya tubuh yang semula membeku, kini kembali hangat. Harapan itu kembali muncul kepermukaan bumi.
Mataku mencuri pandang ke arah seragamnya, membaca deretan huruf yang tersemat rapi disana. Sebuah nama cantik, Claudia.
Rasanya aneh, baru kali ini ada seseorang yang tak reflek menutupku. Ia malah dengan lembut menyusuri baris demi baris kata-kataku dengan matanya secara perlahan.
Claudia terus menyusuri lembaranku, ia tak terlihat lelah bahkan bosan. Justru, matanya semakin berbinar, “ Indahnya…” gumam Claudia pelan
“Maknanya dalam banget, kenapa ya aku ga pernah temuin buku ini?”
Itu adalah momen paling bahagia dalam hidupku. Setelah beribu-ribu hari terlewat cepat dengan sepi, akhirnya ada seseorang yang melihat kembali keistimewaanku.
Sejak berlalunya hari itu, nasibku berubah 180 derajat. Claudia selalu membawaku pergi serta mempelajariku dengan sungguh-sungguh. Ia tak ingin menyimpanku sendirian.
Claudia menatap tumpukan buku-buku syairnya dengan dalam, lembarannya sudah menguning, tapi tinta didalamnya menyimpan sihir yang kuat.
“Sayang banget kalau Cuma aku yang baca” gumam Claudia. Ia mengambil ponselnya, tanpa penuh harapan. Ia mulai merekam, bukan video joget atau kegiatan yang lagi trending, melainkan layar hitam dengan teks putih yang mengalir perlahan. Claudia mulai membaca bait demi bait syair itu. Suaranya lembut, tenang, degan penuh penjiwaan.
Ia menekan tombol post ditiktok dan instagram, lalu beranjak tidur.
Matahari mulai menyinari bumi kembali,cahayanya masuk melewati jendela Claudia.
“Drrrt…drrrtt..”
Ponsel Claudia tak berhenti bergetar. Notifikasinya benar-benar meledak. Beribu-ribu orang membagikan videonya.
“Aku baru tau kalau syair ternyata seindah ini..” atau “Kenapa kata-katanya nusuk banget yah?” Bahkan ada yang merasa sangat tenang ketika Claudia melantunkan syair itu dengan suara merdunya.
Hanya dalam hitungan hela nafas, Claudia menjadi pusat perhatian media. Ia tak lagi menyimpan syair itu sendirian. Claudia terus mengunggah syair-syair lain dengan visual yang estetik dan diperpadukan dengan tradisi serta modernitas.
Para suhu-suhu sastra yang selama ini bersembunyi dibalik puluhan buku-buku tebal mulai memunculkan dirinya dan memberi apresiasi.
Mereka menyebutkan bahwa Claudia bagaikan jembatan yang menyelamatkan pusaka-pusaka kata yang hampir punah dan tertimbun. Sungguh, aku masih tak menyangka kelopak cahayaku mekar setelah sekian lama layu di tangan waktu, berkat gadis dengan suara yang lembut itu.
Kini, di kafe hingga bus kota, telinga manusia tak lagi melulu disuapi bisingnya yang dangkal.
Arus zaman berbalik; orang-orang mulai meraba nadi rima yang membeku dan memetik bunga metafora disela banyak percakapan.
Diriku yang tadinya hanyalah kerangka bisu dibawah debu pelupaan, kini bersalin rupa menjadi api yang menghangatkan jiwa, kata-kata yang hampir menemui ajal itu kembali mengepakkan sayap, bermigrasi dari sebuah kertas yang using, menjadi simfoni di seluruh penjuru di dunia.
Prestasi yang diraih Apta mendapatkan apresiasi besar dari seluruh guru SMP IT Al-Kautsar. Seluruh guru merasa bangga karena Apta mampu menunjukkan bahwa generasi muda tetap dapat mencintai dunia literasi, sastra, dan budaya di tengah perkembangan teknologi saat ini.
Ibu Kepala SMP IT Al-Kautsar, Ibu Melia Henny M, S.Pd., M.M, turut menyampaikan rasa bangga dan motivasi kepada seluruh murid. “Alhamdulillah, kami sangat bangga atas prestasi yang diraih oleh ananda Apta Naia Naisya Tanjung pada ajang FLS3N 2026 cabang Menulis Cerita. Prestasi ini menunjukkan bahwa kreativitas, kemampuan literasi, dan semangat berkarya murid SMP IT Al-Kautsar terus berkembang dengan baik. Menulis bukan hanya tentang merangkai kata, tetapi juga tentang menyampaikan pesan, nilai kehidupan, dan budaya kepada masyarakat. Semoga keberhasilan ini menjadi inspirasi bagi seluruh murid untuk terus percaya diri mengembangkan bakat dan potensi yang dimiliki. Jangan pernah takut berkarya, karena setiap karya memiliki kekuatan untuk memberi manfaat bagi banyak orang.”
Apta juga menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaannya setelah berhasil meraih Juara 2. “Saya sangat bersyukur dan senang bisa mendapatkan Juara 2 pada ajang FLS3N 2026. Awalnya saya merasa gugup saat lomba karena banyak peserta yang hebat, tetapi saya mencoba tetap tenang dan fokus menulis cerita sebaik mungkin. Saya juga berterima kasih kepada orang tua, guru pembimbing, wali kelas, dan seluruh guru SMP IT Al-Kautsar yang selalu mendukung dan memberi semangat. Semoga saya bisa terus belajar dan menghasilkan karya-karya yang lebih baik lagi.”
Guru pembimbing, Ibu Chindy Nurfadillah, S.Pd, juga menyampaikan apresiasi atas perjuangan dan proses latihan yang telah dijalani Apta. “Apta memiliki kemampuan imajinasi dan ketertarikan terhadap dunia menulis yang sangat baik. Selama proses persiapan lomba, kami menjalani latihan secara intens, mulai dari menentukan ide cerita, membangun konflik, memperkuat suasana, hingga memperhatikan penggunaan diksi dan gaya bahasa. Apta juga beberapa kali merevisi tulisannya agar hasil akhirnya lebih matang dan memiliki pesan yang kuat. Saya melihat kesungguhan dan kerja keras yang luar biasa selama proses latihan. Alhamdulillah, semua usaha tersebut membuahkan hasil yang sangat membanggakan.”
Wali kelas VIII Aminah, Ibu Reza Lusiana, S.Psi., Gr, turut memberikan apresiasi dan rasa bangga atas pencapaian muridnya. “Apta merupakan murid yang kreatif, aktif, dan memiliki semangat belajar yang baik. Ia mampu menunjukkan bahwa kemampuan literasi dapat menjadi prestasi yang luar biasa jika terus diasah dan dikembangkan. Kami sangat bangga atas pencapaian yang diraihnya pada ajang nasional ini. Semoga keberhasilan Apta menjadi motivasi bagi teman-teman lainnya untuk terus berani berkarya, mengembangkan kemampuan diri, dan percaya bahwa setiap murid memiliki potensi hebat masing-masing.”
Prestasi yang diraih Apta Naia Naisya Tanjung menjadi bukti nyata komitmen SMP IT Al-Kautsar dalam mendukung pengembangan potensi murid di bidang akademik, seni, sastra, dan karakter. Sekolah terus berupaya memberikan ruang pembinaan, pendampingan, dan motivasi agar murid dapat berkembang secara optimal sesuai bakat dan minat yang dimiliki.
Harapan besar juga disampaikan sekolah agar prestasi ini menjadi langkah awal lahirnya generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kreatif, berbudaya, dan mampu menyampaikan nilai-nilai positif melalui karya sastra.
Selamat kepada Apta Naia Naisya Tanjung atas prestasi luar biasa yang telah diraih. Semoga terus semangat berkarya dan menginspirasi melalui tulisan-tulisan terbaiknya.
SMP IT Al-Kautsar
Berkarakter Islami, Berkualitas, Berprestasi
